Rabu, 14 Februari 2018

Kara no Kyoukai Chapter 1 Part 1

1/

Di malam hari, pada awal Agustus, Mikiya datang tanpa memberitauku sama sekali.

“Selamat malam. Seperti biasa kamu selalu terlihat lesu, Shiki.” Tamu yang datang tiba-tiba itu tersenyum, dan memberi salam membosankan sambil berdiri di pintu masuk.

“Ada kecelakaan terjadi saat aku akan ke sini. Seorang gadis melompat dari puncak gedung, dia bunuh diri. Walau aku mendengar itu sering terjadi belakangan ini, aku tidak menduga aku akan melihatnya secara langsung. Ini, ke kulkas.” Mikiya melemparkan sebuah kantong plastik dari swalayan kepadaku bersamaan dia melepas ikatan tali sepatunya.

Di dalamnya terdapat dua Häagen-Dazs rasa stroberi. Kelihatannya dia ingin aku memasukkannya ke dalam kulkas sebelum es krim-es krim ini leleh. Ketika aku memeriksa isi dari kantong plastik itu, Mikiya sudah selesai melepaskan sepatunya dan melangkah masuk ke tempat kediamanku.

Aku tinggal di salah satu kamar di sebuah apartemen. Jika kau berjalan melalui lorong – yang mana perlu kuingatkan, bahkan tidak lebih dari satu meter – kau akan menemukan ruangan yang menjadi tempat tidur sekaligus ruang tamuku. Menatap punggung Mikiya yang masuk dengan cepat ke kamarku, aku mengikutinya.

“Shiki, hari ini kamu bolos sekolah lagi, kan? Aku tidak mempermasalahkan nilaimu, tetapi kamu tidak akan lulus jika kamu tidak mengisi daftar hadir minimalmu. Apa kamu sudah lupa dengan janji kita untuk kuliah bersama?”

“Memangnya kau punya hak untuk menasehatiku soal sekolah? Aku tak ingat pernah menjanjikan itu, dan lagi kau sendiri berhenti kuliah.”

“Uh, kalau soal ‘hak’, tidak ada yang punya hak untuk siapapun, tapi...” mencoba mencari balasan yang cerdas, Mikiya menghentikan perkataannya dan mencari tempat untuk duduk. Saat dia tersudutkan dia akan mengatakan perasannya yang sebenarnya; itu adalah kenangan yang baru saja muncul di pikiranku.

Dia mendudukkan dirinya di lantai tepat di samping tempat tidurku. Aku merebahkan dan meregangkan badanku di belakang Mikiya. Hal yang bisa kulihat hanyalah punggung Mikiya yang agak ramping ketimbang dengan pria pada umumnya.

Sepertinya pemuda bernama Kokuto Mikiya ini adalah temanku semasa SMA.

Di tengah-tengah anak muda zaman sekarang – di mana tren-tren baru bermunculan setiap waktu, dan di saat yang sama lenyap dalam sekejap – dia adalah pria ‘langka’ yang tidak merubah penampilannya sejak semasa dia sekolah. Dia tidak mewarnai rambutnya ataupun memanjangkannya, dia tidak mencoklatkan kulitnya ataupun memakai aksesoris, dia tidak membawa ponsel ataupun bermain dengan para wanita.

Tingginya sekitar 170cm, wajahnya yang ramah tamah dan kacamatanya yang besar membuatnya tampak manis. Walau dia sudah lulus dari SMA, dia masih berpakaian rapi dan sederhana. Andaikan dia berpakaian lebih modis, bisa jadi dia akan terkenal di kalangan para gadis.

“Shiki, apa kamu mendengarkanku? Tadi aku juga bertemu dengan ibumu. Setidaknya kunjungilah rumahmu sesekali, aku dengar kamu tidak ada menghubungi keluargamu sejak kamu keluar dari Rumah Sakit dua bulan yang lalu.”

“Selama aku tak ada urusan di sana aku takkan mengunjungi mereka.”

“Hei, walau kamu tidak ada urusan di situ, keluargamu pasti akan senang jika kamu menemui mereka.”

Aku terdiam sesaat sebelum menjawab, “Tak juga. Soalnya aku masih kesulitan memikirkan ini semua nyata. Semakin sering kami bertemu rasanya semakin jauh jarak di antara kami. Berbicara denganmu saja masih terasa aneh bagiku, apalagi berbicara dengan mereka yang terasa seperti orang asing.”

“Dasar, kalian tidak akan pernah rukun jika kamu tidak membuka hatimu kepada mereka. Anak dan orang tua yang tinggal begitu dekat tetapi tidak pernah mengunjungi satu sama lain itu tidak benar.”

Aku mengerutkan dahiku saat mendengar kata-kata celaan darinya.

Tidak benar, katanya. Apa yang dia maksud dengan ‘tidak benar’? Tidak ada hal ilegal yang terjadi di antara aku dan orang tuaku. Hanya saja anak mereka terlibat kecelakaan mobil dan kehilangan ingatannya. Kami sudah terbukti merupakan keluarga dari sisi hukum maupun darah, maka dari itu aku pikir tidak ada yang salah dengan situasi kami sekarang.

Mikiya selalu mencemaskan bagaimana perasaan orang lain. Padahal menurutku hal itu tak ada artinya.

+++

Ryougi Shiki adalah temanku sejak SMA. Sekolah kami adalah SMA swasta yang terkenal karena kebanyakan lulusannya masuk ke universitas-universitas ternama. Ketika aku pergi untuk melihat diterima tidaknya aku di SMA ini, nama Ryougi Shiki sangat mencolok sampai-sampai aku terus mengingatnya. Ironisnya, ternyata kami berdua sekelas. Sejak itu, aku menjadi salah satu dari beberapa teman yang Shiki punyai.

Sekolah kami tidak memiliki seragam, jadi para siswa mengenakan pakaian apapun yang mereka sukai. Di antara siswa-siswi ini, Shiki sangat menonjol. Itu karena Shiki selalu mengenakan kimono. Setiap saat.

Kimono sederhana yang mengikuti lekukan pundaknya dengan halus sangat cocok dikenakan oleh Shiki, sampai-sampai dia bisa mengubah suasana di ruang kelas menjadi seperti rumah seorang samurai cukup dengan berjalan di dalamnya. Hal itu tidak hanya dikarenakan penampilannya saja. Tidak ada satupun dari pergerakan Shiki yang sia-sia. Dia jarang sekali berbicara, kecuali saat pelajaran sedang berlangsung. Aku rasa itu saja sudah cukup untuk menjelaskan seperti apa seseorang bernama Shiki.

Bentuk badan Shiki pun juga hampir sempurna. Rambutnya sangat indah dan halus, tetapi kelihatannya dipotong seadanya sampai di bawah telinga kemudian dibiarkan begitu saja. Hal itu menyebabkan banyak murid yang keliru akan gender Shiki. Shiki terlihat cukup tampan sampai-sampai perempuan mengiranya laki-laki, dan laki-laki mengiranya perempuan. Menurutku menyebutnya ‘cantik’ kurang tepat. Dia lebih cocok disebut anggun.

Namun, daripada penampilan Shiki, hal yang paling memikatku adalah matanya. Mata Shiki tajam tetapi terlihat tenang, dan alisnya yang tipis memperkuat hal itu. Dengan mata itu, dia menatap hal yang tidak terlihat oleh kami. Itulah mengapa seseorang bernama Ryougi Shiki sangat spesial untukku.

Ya.

Sebelum kejadian itu menimpa Shiki.

+++

"Melompat."

"Anu— Maaf, aku tidak mendengar perkataanmu sebelumnya."

“Bunuh diri dengan melompat dari suatu tempat. Apakah kamu menganggap itu adalah sebuah kecelakaan, Mikiya?”

Mikiya menyusun pikirannya setelah komat-kamit tidak jelasnya dan mulai memikirkan pertanyaanku dengan serius.

“Hm, aku yakin itu adalah sebuah kecelakaan, tapi kamu benar juga. Kira-kira apa yang terjadi? Selama itu adalah keinginan diri mereka sendiri, kesalahan itu berada di diri mereka. Namun, jatuh dari tempat yang begitu tinggi bisa dianggap sebagai sebuah kecelakaan”

“Kalau begitu, itu bukanlah pembunuhan ataupun kematian yang tak disengaja. Saat diucapkan seperti ini rasanya ambigu sekali. Andai mereka ingin membunuh diri mereka, bisakah mereka memilih cara yang tak menyusahkan orang lain?”

“Shiki, kamu tidak boleh menggunjing orang yang sudah meninggal,” kata Mikiya dengan datar. Perkataannya sangat mudah untuk ditebak.

“Kokuto, aku benci saat kau menceramahiku.” Tentu, jawabanku menjadi sedikit lebih kasar, tapi Mikiya tidak memperdulikannya.

“Wah, sudah lama sekali sejak kamu memanggilku dengan margaku.”

“Begitukah?”

Mikiya mengangguk.

Aku memanggilnya dengan dua cara, yaitu antara nama depannya atau marganya. Namun, entah mengapa aku kurang suka memanggilnya Kokuto. Saat senyap mulai menyapa kami di tengah-tengah renunganku, Mikiya menepukkan kedua tangannya bagikan dia baru mengingat sesuatu.

“Ah, berbicara soal hal yang jarang terjadi, adikku Azaka melihatnya.”

“Melihat apa?”

“Gadis di apartemen Fujou yang katanya terbang di angkasa. Katamu kamu juga pernah melihatnya, bukan?”

Oh, aku ingat sekarang. Tentang cerita hantu yang muncul sekitaran tiga minggu yang lalu. Desas-desusnya mengatakan ada apartemen mewah di distrik perkantoran yang disebut dengan apartemen Fujou. Di malam hari, wujud yang berbentuk seperti manusia bisa terlihat terbang di atas bangunan itu. Fakta bahwa bukan hanya aku saja yang bisa melihatnya, tapi juga Azaka, menandakan bahwa cerita itu bukan bohongan.

Setelah koma selama dua tahun dikarenakan kecelakaan mobil, aku bisa melihat hal yang seharusnya tidak berada di dunia ini. Jika aku perlu meminjam perkataan Touko, aku bukan ‘melihatnya’ melainkan ‘mengamatinya’. Dengan kata lain, sepetinya otak dan mataku bisa menangkap hal-hal di luar nalar manusia awam, tapi aku tak peduli soal penyebab atau penjelasan mengenai hal itu.

“Yang ada di apartemen Fujou itu, aku tak hanya melihatnya sekali tapi berkali-kali. Namun, beberapa waktu ini aku tak ada pergi ke sana, jadi aku tak tau apakah aku masih bisa mengamatinya atau tak.”

Mikiya menjawab, “Begitu yah. Aku sering ke sana, tetapi aku tidak pernah melihat hantu.”
“Kau tak bisa melihatnya karena kau memakai kacamata.”

“Aku pikir ini tidak ada hubungannya dengan kacamata,” sahut Mikiya. Reaksinya sangat polos dan manis. Mungkin karena  inilah dia sulit melihat hal semacam itu.

Tetap saja, perkara membosankan seperti orang yang jatuh ataupun terbang ini masih terjadi. Aku tak paham mengapa ini terus berlanjut, karena itu aku menyuarakan pertanyaanku, “Mikiya, apa kau tau kenapa seseorang ingin terbang?”

Mikiya mengangkat bahunya.

“Aku tidak tau kenapa seseorang ingin terbang maupun jatuh,” ucapnya, “karena aku belum pernah melakukan keduanya, tidak sekalipun.”

Dengan nada yang tak bisa diganggu gugat, dia mengatakannya dengan santai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar