Kamis, 12 April 2018

daze I (part 1)

kepusingan I (part 1)

“Sedang apa aku di depan TV?”

Pertanyaan itu terlontar dari diriku yang tanpa alasan terduduk di hadapan sebuah TV VCR. Aku memandang sekelilingku, berkali-kali memastikan diriku sedang tidak berada dalam keadaan ling-lung dan semacamnya, tetapi pemandangan mustahil di sekitarku tetap tidak berubah. Mungkinkah aku sedang bermimpi? Namun, aku tak mengingat kapan aku tertidur.

…Lebih tepatnya, bisa dikatakan isi kepalaku kosong melompong.


Sedang apa aku di sini dan kenapa aku menonton TV? Saat aku mempertanyakan hal itu kepalaku tidak bisa memberikan jawabannya. Ketika aku mencoba mengingat apa yang tadi kutonton, ingatanku terhenti pada saat aku mengucapkan kata pertamaku tadi. Ingatanku begitu buram bagaikan ada yang mengusutkan pita dari kaset memoriku.


Aku fokuskan mataku ke tempat di mana TV itu tergeletak. Ada sesuatu yang seperti sebuah kredit penutup bergulir perlahan di layarnya, diiringi dengan melodi statik yang terdengar seperti permainan biola. Mungkin sebelumnya aku menonton suatu film.



…Aku? Menonton film? Jujur sulit membayangkan orang yang tak hobi menonton film sepertiku melakukannya. Jikapun aku melakukannya, film yang akan kutontoh adalah adaptasi anime bishoujo senshi yang biasa tayang di minggu pagi. Selain itu, aku bukanlah orang yang begitu sabarnya sampai aku tahan menonton kredit penutupnya sampai akhir. Sesenggang apapun diriku aku takkan melakukan hal yang sangat membuang-buang waktu.

Mengumpulkan informasi yang kuketahui, jika ada kredit penutup pastilah ada [isi] dari film tersebut. Aku snagat yakin aku telah menonton [suatu] film, tetapi film apakah itu?

“Sial, ingatanku kacau balau. Sebenarnya aku berada di mana sih?”

Pertama aku harus mencari informasi mengenai tempat aku terdampar sekarang. Adakah suatu petunjuk yang bisa memberikanku kejelasan tentang situasiku? Apapun boleh, mau itu benda mati, hewan, tumbuhan, dan jika ada manusia akan lebih baik lagi.

Haa, andai saja aku tidak keluar dari kamarku yang nyaman, aku pasti tidak akan terjebak di dalam tempat yang aneh ini.

Sembari memikirkan hal itu, aku memeriksa sekelilingku—— 

——dan pemandangan yang mejumpaiku masihlah sesuatu yang membuatku menggosokkan mataku berkali-kali.

“Apakah ini nyata?”

Berapa kalipun aku mengedipkan mataku, memeriksa seluruh tempat yang tertangkap penglihatanku, hanya ada kekosong-lompongan yang menyambutku. Putih bersih tanpa noda, tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan maupun peradaban yang muncul dipandanganku. Tidak ada birunya langit, hijaunya pohon, silaunya mentari ataupun sinar rembulan, bahkan bayanganku sendiri tidak ada. Kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah – [semua] yang ada di jarak pandangku terselimuti dengan putih yang tampak kekal. Hanya satu set TV jadul yang pertama kali kulihat yang menemaniku di sini.

Menemui pemandangan mustahil ini, aku hanya bisa gemetar.

Dulu, saat aku masih bocah tengik, hitamnya kegelapan malam membuatku takut. Namun, walau yang kulihat sekarang sangat berkebalikan dengan hal itu, perasaan yang kurasakan sekarang sama- tidak, lebih buruk dari itu.

Jika aku berada di dalam kelamnya kegelapan, aku masih bisa berpikir, “mungkin aku tak bisa melihat, tapi pasti ada harapan yang bisa kutemukan di suatu tempat,” dan bisa jadi aku memang memiliki kesempatan. Namun, tidak ada apapun di sini. Putih, putih, putih, kekosongan dari dunia ini hanya memberikanku kesan bahwa tidak ada harapan yang bisa kugapai walau aku berusaha.

Keputus-asaan mulai meresap ke sumsum tulangku. Ingatanku sebelum aku ke sini masih buram, dan tidak ada seorang pun yang berada di sini. Bahkan jika aku memutuskan untuk beranjak dari tempat ini, aku tidak tau bagaimana dan akan ke mana diriku menuju. Putih, putih, putih, hamparan warna tak ternoda memusnahkan harapanku…

Apa-apaan dengan tempat ini? Mustahil tempat seperti ini dibuat oleh alam, apalagi manusia. Sebuah ruang tak terhingga yang tak berisi apa-apa. Satu-satunya penjelasan yang muncul di kepalaku hanyalah… bahwa aku… sudah…

“Tidak mungkin itu terjadi, bukan?! Sial…”

Aku menyeranah untuk mencegah kesimpulan pahit yang mulai muncul di benakku.

Tentu, di saat seperti ini tidak ada kepastian aku akan mendapat suatu jawaban walau aku memikirkannya sampai kepalaku meletus. Namun, tak ada pilihan untukku selain mengais-ngais petunjuk untuk menemukan jalan keluar, sekecil apapun kemungkinan aku mendapatkannya.

Adakah petunjuk di sekitarku? Apapun yang bisa membantuku keluar dari tempat menyeramkan ini. Di manakah petunjuk itu…

Akhirnya, hal yang bisa kuselidiki hanyalah TV yang senantiasa menemaniku dalam kepanikanku. Harapan satu-satunya di tempat ini. Aku tidak peduli berasal dari mana sumbernya, aku memerlukan informasi.

Mataku yang penuh dengan harapan menelaah seluk-beluk TV tersebut, tetapi hanya kekecewaan yang kudapat – keputus-asaan yang kurasakan semakin pekat saat kumelihat informasi yang terpampang di layar.

“Bahasa apa ini…?”

Tulisan-tulisan yang bergulir di layar tersebut terdiri dari huruf-huruf yang tak bisa dipahami, bagaikan bahasa dari berbagai macam negara berebut untuk bisa berada di sana dan akhirnya bersatu padan dengan paksa. Berkali-kali kutatap tulisan tersebut agar bisa memberiku sepeser pencerahan, tetapi walau kubalik, kuputar, atau kususun dengan berbagai macam cara, tidak ada yang bisa menjadi perkataan yang masuk akal. Padahal aku sudah belajar dan cukup menguasai berbagai macam bahasa, tetapi itu sama sekali tidak membantuku sekarang.

Hembusan napas panjang keluar dari hidungku. Terduduk dengan lesu, setiap kali aku memeriksa sekitarku harapanku kembali hancur dengan ketiadaan manusia di tempat ini. Hanya ada sebuah TV tua yang menemani kesendirianku.

Hal terakhir yang bisa kuingat hanyalah diriku yang menyedihkan sedang bermain komputer di kamarnya yang gelap…

Biarpun ingatanku agak kabur, aku lega itu bukanlah hal yang tak terduga.

TV yang terus menggulirkan kredit penutup ini… apa yang ingin disampaikan olehnya? Ketika aku kembali menatap ke layar TV itu aku merasa, “Sudah jelas ada sesuatu yang [kutonton] sejak tadi,” sepertinya sesuatu yang telah aku tonton sangat lucu, tetapi pada waktu yang sama sangatlah sedih, dan sendu.

Serpihan-serpihan kenangan yang tercerai-berai muncul dan lenyap dari pikiranku. Aku sangat yakin tadi aku sudah menonton [isi] dari film yang menghadirkan kredit penutup ini. Namun, bagaikan kepalaku diselimuti oleh belenggu kabut panas, aku sama sekali tidak bisa mengingat [isi film] tersebut. Kenapa hal yang terpentinglah yang kulupakan?

“Mungkinkah… itu sesuatu yang tak ingin kuingat?”

Tepat saat aku mengutarakan hal tersebut, sebuah baris yang tampak bisa kucerna muncul di antara tulisan-tulisan tak masuk akal tersebut. Aku segera menghampiri TV tersebut, tidak ingin kehilangan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk. Ini adalah secercah harapan yang tidak akan datang dengan mudahnya.

Tak bisa membendung semangatku, aku menyuarakan tulisan yang bisa kubaca, “Apalah apalah… [Peran utama…. Kisaragi… Shintaro]?”

Apakah ini kebetulan yang tak lucu? Aku tak pernah bertemu dengan orang yang memiliki nama sama persis denganku. Bagaimanapun, aku tak bisa mengelak bahwa memang namaku lah yang terpampang di bawah gelar pemeran utama.

Peran utama… maksudnya protagonis cerita? Tunggu, tunggu, sepanjang hidupku selama 18 tahun ini, aku tidak pernah ikut audisi film! Walau kita memasukkan hal selain itu, seperti sandiwara panggung, drama, atau bahkan anime… aku tidak ingat pernah ikut serta dalam hal-hal itu!

Jika dalam satu juta banding satu kemungkinan aku ikut andil dalam hal seperti itu, mustahil aku akan mendapat peran utama. Jika aku boleh jujur, satu-satunya protagonis yang bisa kuperankan adalah protagonis dari cerita kehidupanku sendiri.

Kehidupanku… sendiri…?

“…Tidak.”

Tidak, tidak, tidak, tidak! Itu mustahil. Ini adalah mimpi, ini pasti adalah mimpi! Badan sedingin es ini, dan perasaan lemas ini, semua pasti hanyalah sebuah mimpi buruk yang terlalu realistis!

Benar, tidak mungkin hidupku telah [berakhir]!

“Apa yang sebenarnya terjadi…?! Sial!”

Berdiri dengan tiba-tiba, kakiku berayun melayangkan TV di hadapanku. Aku takkan kaget jika aku mematahkan kakiku dengan sebetapa kerasnya aku menendangnya… tetapi itu tidaklah terjadi. Ada apa dengan badanku? Mengapa aku tidak terluka sama sekali, bahkan tidak ada bengkak yang muncul di kakiku.

Seram sekali. Kepalaku pusing. Jiwaku terguncang. Seharusnya tidak mungkin ini terjadi… bahkan saat aku merasa aku akan menangis, tidak ada air mata yang menetes dari kelopak mataku.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku tidak bisa mengingat apapun? Apakah aku benar-benar [Kisaragi Shintaro]?

Aku tidak peduli siapapun itu, seseorang jawab aku!

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah aku akan lenyap dengan begitu saja?  Apakah semuanya akan berakhir di sini? Atau ini akan terus berlanjut selamanya? Akankah aku terus sendirian di kehampaan ini, selamanya…?

…Ah, aku tidak menginginkan ini. Mimpi ini sudah kelewatan batasnya.

Aku merasa seperti otakku akan meledak.

Andai ini sebuah mimpi, bangunkanlah aku… cepat…

“…Tenangkan dirimu, Shintaro-kun.”



…Sebuah suara.

1 komentar:

  1. lanjut minn,,, semangatt ❤(ӦvӦ。)❤(ӦvӦ。)

    BalasHapus