Kamis, 21 Agustus 2014

Yobanashi Deceive IV


 Cerita Malam Menipu IV

Kredit kepada pochamachan untuk Terjemahan Bahasa Inggris

Lampu redup berwarna oranye menerangi ruangan yang rapi. Yah agar lebih sopan aku hanya bisa menyebutnya rapi,  karena jika tidak aku tidak tau lagi apa yang bagus dari ruangan minim hiasan ini.

Ruangan ini serasa sangat monoton dan simpel dengan TV LCD kecil, meja kotak-kotak yang besar, dan almari warna-warni untuk menyimpan baju. Di sekitar meja dan rak juga terdapat sepasang bantal dan beberapa buku anak-anak.

Ruangan yang terletak di lantai pertama, di paling ujung – ‘Kamar 107’

Ranjangku adalah tempat yang sekarang sedang kududuki—bagian bawah dari tempat tidur bertingkat yang agak kotor. Malam ini kami kembali mendiskusikan topik hangat yang sulit dituntaskan.

Topik hari ini adalah - Bagaimana caranya kita yang dikenal sebagai ‘monster’ di panti asuhan ini membersihkan nama baik kita?

Meskipun aku mengatakan ”Topik Hari Ini”....sejujurnya topik hari ini tiada bedanya dengan topik yang diperbincangkan pada hari kemaren ataupun kemarennya lagi.

“Jadi, bagaimana menurut kalian?” kesunyian membentang atas pertanyaanku, hari ini mereka kembali tidak merespon atau berusaha untuk menjawab pertanyaanku, akhirnya aku menyerah dan mengatakan, "Ahh~ sungguh, apa yang bisa kita lakukan untuk menuntaskan masalah ini~?"

Seto yang mendengar ini hanya mencengkram bantalnya erat-erat ke dadanya; terlihat seperti akan menangis, “Semua ini pasti adalah salah saya. Saya memohon maaf sebesar-besarnya....”

“Tidak, ini bukan cuma salahmu. Jangan mengatakan hal-hal seperti itu. Dan lagi, jangan berbicara sesopan itu.” Bahu Seto sontak berguncang ketakutan saat kata-katanya segera dipotong Kido. Permintaan maaf yang lirih terus dibisikkan Seto sebelum perlahan menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.

Seto bagaikan gabungan dari balita dan bayi hewan; dia bisa menangis karena suatu sebab atau apapun. Dia menangis saat dia jatuh, saat dia lapar pun dia akan menangis, bahkan saat malam mendekat.....dia juga terkadang menangis tanpa alasan yang jelas. Itulah karateristik paling mencolok dari Seto Kousuke; ‘Teman #2’ yang kutemui di fasilitas ini.

Aku sendiri merasa harusnya kami berbicara lebih lembut dengan Seto, tetapi Kido yang sepertinya tidak peduli akan hal itu hanya mengeluarkan, “Hmm” kaku dan mengambil benang dalam gendongan kucing untuk membangun sebuah menara Tokyo.

Aku yang berpikir tidak baik mengakhiri percakapan ini begitu saja bergegas menengahi mereka, “Ti-tidak apa-apa kok! Selain itu, kurasa.....Seto juga memikirkan berbagai macam hal dengan caranya sendiri....”

Seto yang mengabaikan pembelaanku hanya bergumam, “....Anu, maafkan saya. Saya sama sekali tidak memikirkan banyak hal,” dengan kepalanya masih tenggelam di bantal.

Seto kembali meloncat dan membungkam mulutnya rapat-rapat saat Kido yang mengeluarkan aura menekan melihatnya dengan ekspresi terganggu, “Sudah kubilang jangan terlalu sopan,” bisiknya.

Dalam sekejap, kami kembali ke awal.

Mulutku mengeluarkan embusan napas panjang dan aku menyandarkan badanku ke tumpukan selimut yang terlentang disebelahku. Sepertinya hari ini kami juga tidak bisa menemukan solusi atas masalah kami. Kesimpulannya bisa kulihat dengan mudah; kami berakhir tanpa membicarakan apa-apa dan terlelap seperti biasanya.

Beberapa bulan berlalu sejak aku datang ke sini. Entah bagaimana, kesibukanku sekarang lebih banyak daripada 2 bulan lalu pas aku tinggal bersama tante.

Pada hari itu di mana aku memulai hari pertama di panti asuhan dengan bekas tamparan merah di wajahku yang pucat, aku sangat khawatir apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Syukurlah, hari-hari yang kulalui selanjutnya cukup damai.

Ngomong-ngomong, aku terkejut saat mengetahui ‘Kido’—gadis yang menamparku juga seorang yatim piatu yang datang dengan keadaan yang hampir mirip denganku.

Itu sih masih tidak seberapa; aku lebih terkejut lagi saat mengetahui kalau kami tinggal sekamar. Biasanya kamar-kamar di panti asuhan dipisahkan sesuai gendernya, tapi gegara kamar lain sudah penuh kami jadi tinggal bersama karena masih anak-anak.

Dulu aku tidak terlalu percaya dengan pepatah pertemuan yang telah ditakdirkan’ tapi sekarang aku tidak bisa mengatakan apa-apa saat sudah diberi bukti yang jelas seperti ini.

Tambahan—penyebab aku memanggilnya ‘Kido’ adalah karena aku hanya mendengar nama belakangnya sebelum kami diganggu.

Setelah apa yang terjadi pada pertemuan pertama kami, dia menolak untuk berbicara denganku karena dia berpikir aku bocah yang ‘mesum’.  Tetapi aku tidak ingin melepaskan ‘Teman #1’ku begitu saja, karena itu aku berjuang dengan terus-menerus mengikutinya dan memanggilnya “Kido-san, Kido-san”

Aku dibanjiri dengan berbagai macam perasaan yang campur aduk sampai hampir ingin menangis ketika dia akhirnya berbicara denganku; “Tidak perlu memanggilku dengan –san,” Setelah itu, aku hanya memanggilnya ‘Kido’ karena dia tidak pernah memberitauku nama depannya.

Pada saat itu, Seto—anak yang dari awal sudah tinggal di kamar ini, hanya meringkuk dan mengamati kami.

Seto memiliki kepribadian yang 180 derajat berkebalikan dari Kido yang dingin sedingin gletser di kutub utara. Meskipun dia sangat amat pendiam, suatu hari dia mendadak berusaha menyemangatiku yang terus diabaikan Kido dengan membicarakan riwayat hidupnya.

Dia bercerita kalau dia sudah tinggal di panti asuhan ini sejak lahir. Tidak ada yang ingin berteman dengannya dan anak-anak lain yang tinggal di sini selalu mengerjainya. Anjing bernama Hanako yang sudah menjadi teman satu-satunya meninggal setahun lalu.....dan sebagainya.

Air mata membanjiri wajahnya yang tembem saat ia mengisahkan ini. Alhasil, pembicaraan penyemangatku malah menjadi ‘aku yang mencoba menghibur Seto sebisaku’ “Tidak apa-apa, sekarang kau baik-baik saja” Kataku untuk menenangkannya.

Pada saat itulah, sebuah ikatan berkembang diantara aku dan Seto. Setelah itu, Seto pun menjadi ‘Teman #2’ku....dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian di mana suatu hari dia mendatangiku dan bertanya “Kita....teman, bukan?” dengan wajah yang menyiratkan jika tidak, lebih baik saya mati

Terus terang, dia lebih pantas menjadi teman daripada Kido, ‘Teman #1’, yang menolak berbicara denganku pada waktu itu.

Kemudian, aku hanya menikmati hari-hari membosankanku dengan bocah bernama Seto ini. Seiring waktu berlalu, akhirnya Kido juga bersedia untuk berbicara denganku. Biarpun ada berbagai hal yang butuh ditoleransi, sampai sekarang kami menjalani hidup kami dengan mulus....

...tapi itu bohong. Ini tidaklah mulus, tidak sedikitpun. Bahkan sebenarnya ini sangat berkebalikan dengan ‘mulus’.

Seandainya kita mengibaratkan ranjang yang kami duduki ini sebagai perahu, maka perahu ini adalah perahu layar rusak yang berusaha mengarungi Samudra Pasifik sendirian di tengah amukan badai yang mengerikan....dan itulah sebabnya kenapa kami melakukan diskusi ini.

Jujur aku dan yang lain tidak terlalu suka dipanggil sebagai ‘monster’ ataupun ‘setan’ oleh pengurus dan anak-anak lain yang tinggal di panti ini.  Kami sudah muak dengan tempelan-tempelan di pintu kami seperti ‘Kamar Monster’, ‘Hati-hati, setan tinggal di sini!’, dan sebagainya. Jadi, kami harus menyingkirkan reputasi ini sesegera mungkin.

"M-Monster ... Setan ..."

"Ya, aku benar-benar berharap mereka berhenti mengatakan itu...... Eh?" Aku tidak mengatakan pikiranku dengan nyaring kan? Aku merasa aku hanya mengucapkannya dalam benakku....jadi kenapa Seto mengulangnya?

Kudorong diriku untuk melihat Seto yang mengangkat kepalanya dari bantalnya. Dengan mata merah padam mempesona yang berkaca-kaca, dia menatapku.
Kukeluarkan “ah...” lemah sebelum menutup mataku dan mulai memikirkan sesuatu, ‘... Kau bisa mendengar apa yang kupikirkan lagi? tanyaku dengan nyaring dalam otakku.

"Ma-maaf...saya dapat mendengarnya." Jawab Seto dengan merasa bersalah dan kemudian kembali membenamkan wajahnya di bantal sampai hanya matanya yang kelihatan.

Aku kembali berbicara di dalam benakku, ‘Sekarang ini tidak terlalu sering terjadi lagi, kan? Tapi, kemampuan Seto selalu mendadak muncul sih....’

Seto yang mulutnya masih terkubur dalam bantal menjawab dengan malu-malu, “seharusnya sebentar lagi ini akan berhenti....”

Aku menyeringai sedih. Mendadak suasana tidak mengenakkan terpancar dari arah Kido. Kutoleh Kido dengan ketakutan, dia melototi Seto dengan mimik muka teramat marah. Seto yang melihat itu seperti tikus yang dipojokkan seekor ular.

Seto yang sepertinya bisa mendengar tuduhan-tuduhan yang dipikirkan Kido hanya bisa mengguncangkan tangannya, “A-ah, jangan sopan? Saya memohon maaf, saya memohon maaf! Eh...? Ti-tidak! Saya tidak melakukan hal ini dengan sengaja!” Tentu saja, saat ia membela diri dia masih berbicara dengan sangat sopan. Kebiasaannya itu benar-benar sudah tertanam di dalam karakternya.

Kido membuang ayunan kucingnya, membangunkan tubuhnya, dan berdiri. Dia berjalan maju menuju Seto dengan mengepalkan tangan kanannya mengepal, “Sudah berapa kali aku mengatakan ini, jangan berbicara dengan sopan...?”

Pada waktu yang sama, butiran-butiran air bergulir dari mata Seto yang mungkin sangat ketakutan bersamaan dia mengeluarkan rengekan-rengekan pelan yang menyedihkan.

Ini benar-benar buruk.

Aku menyelinap diantara Seto dan Kido, kemudian mengangkat tanganku dengan gestur ingin mendamaikan mereka. Kupaksakan sebuah senyum di wajahku, "Tunggu, berhenti, berhenti! Kido, bukannya kau terlalu berlebihan untuk marah dengan gaya bicara Seto? Iya kan?" kudorong Kido pelan untuk menghentikannya sesaat, namun Kido hanya melototiku dengan sorotan mata yang seolah-olah mengatakan "Minggir atau aku akan membunuhmu juga."

Ketidakramahannya benar-benar terpancar dengan baik dari matanya. Seandainya aku mengibaratkan ini dengan film-film pahlawan berkostum seperti Ultraman, dia pasti menjadi monster kecilnya. Dibelakangku, Seto cekikikan dan mengulang apa yang kupikirkan tadi, “pfffff, monster kecil.”

Aku pun berbicara dalam benakku untuk memperingatinya, ‘Hei, apa yang kau tertawakan!? Aku sedang mencoba membelamu tau!?’ Seto segera menggumamkan, “Sa-saya mohon maaf!” setelah itu.

Ah sial, kenapa dia harus kelepasan bicara? Tuh liat, dia jadi menyia-nyiakan usahaku dan malah memberi minyak ke api kemarahan Kido dengan gaya bicaranya.

“Kau berbicara terlalu sopan lagi.....dan Kano. Kau tadi mengatakan sesuatu kepada Seto, bukan?" Memang sih Kido berbicara dengan nada yang sangat amat tenang, tapi aku bisa merasakan niat membunuh yang luar biasa tajam tersirat dalam perkataannya.

"Eh!? t-tidak, aku tidak mengatakan apa-apa! Iya kan, Seto?"

"Y-ya! Dia tidak mengatakan apapun tentang monster kecil atau pun semacamnya!"

Kemudian, Kido mengepal tangannya dengan cepat dan melayangkannya tepat ke perutku, “Oof!”

Tidak bisa menahan pukulan super kuat Kido, aku terjatuh ke selimut-selimut putih dibelakangku. SFX ‘Game Over’ terngiang dikepalaku akibat K.O sempurna yang diberikan oleh Kido. Seto hanya menonton dan bersuara,"Eeeeek-!" menyedihkan.

Tertatih-tatih menahan rasa sakit diperutku, kudongakkan kepalaku untuk melihat raut muka Kido. Sepertinya amarah Kido yang menggebul-gebul menjadi berkurang karena tinjuannya tadi, sekarang pelupuk matanya aktif memproduksi air yang asin dan akhirnya ia terisak-isak.

Tidak lama setelah itu, Seto bagaikan sudah sepakat dengan Kido untuk memulai sebuah pesta air mata dan ikut menangis bersamanya. Baru saja aku sembuh dari pukulan mematikan tadi, aku sudah disuguhi dengan dua anak yang meraung-raung.

........ah, aku tidak paham, apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Kau tau, biasanya bukannya harusnya aku—sebagai korban atas semuanya—yang menangis? Namun, mengabaikan perasaanku yang campur aduk, tangisan mereka malah tambah kencang.

"Aah, ini buruk, kalau ini terus berlanjut—“ Aku tersentak dari pikiranku saat melihat sesuatu yang sudah familiar kembali muncul di mata Kido. Seperti yang kuduga, merah padam yang menyala perlahan mewarnai matanya yang hitam dan figurnya lenyap sedikit demi sedikit.

Oh iya....entah mengapa setiap kali Kido kesepian, kesal, menangis, atau semacamnya, dia akan menjadi tidak terlihat—atau lebih tepatnya dia menjadi ‘tidak disadari oleh orang lain’. Namun, kekuatan ini juga mempunyai batasannya sendiri, ketika dia ‘bersentuhan dengan orang lain’ maka ‘keberadaannya’ akan kembali disadari orang lain.

Dengan demikian semua akan baik-baik saja asalkan kita memegang tangannya saat dia akan menghilang atau mencolek-colek di sekitar tempat dia menghilang sebelumnya. Tetapi, ini akan sulit sekali dilakukan kalau Kido yang masih dalam keadaan tidak terlihat pergi keluar tanpa peduli.

Aah, aku masih ingat; ada suatu waktu kemampuan Kido aktif gegara emosi negatif dan dia pergi dari kamar tanpa bilang-bilang.  Dia yang tidak balik-balik membuatku dan Seto khawatir dan kami pun mencarinya selama berjam-jam.  Agak memalukan sih, tapi pada saat itu aku tidak bisa memanggil Seto cengeng karena aku sendiri tidak bisa berhenti menangis.

Pada akhirnya, kami tidak menemukannya sampai hari beranjak pagi, dan kami pun berberat hati kembali ke kamar untuk istirahat sejenak. Tetapi, betapa terkejutnya kami saat melihat pelaku yang sudah kami cari-cari sedang tidur di kasurnya dengan wajah polos, tidak tau penderitaan kami. Jujur, aku tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi.

Itulah sebabnya....daripada ikut merengek dengan mereka lebih mudah kalau aku bisa menemukan cara agar mereka berhenti menangis sekarang. Untuk itu aku membayangkan wujud itu dikepalaku.

Wujud khusus yang sengaja kusimpan, wujud yang belum pernah kuperlihatkan ke mereka, dan sekarang kubiarkan bentuk, figur, aroma, dan suaranya mengambang kepikiranku......

Dua “Wow!” gembira terdengar setelah aku membuka mataku. Mendapatkan reaksi yang kuharapkan, semangatku sendiri pun ikut naik.

Dengan lincah aku melompat ke lantai, melambai-lambaikan satu kaki kecilku kepada mereka. Awalnya mereka berdua terkejut, tetapi setelah melihat tingkahku –alias si kucing—yang imut, wajah mereka langsung dihias dengan senyum yang lebar.

"Ada kucing!"

Ah, benar-benar mengharukan, hanya untuk momen ini sajalah aku sudah bersusah payah mencari dan mengamati kucing liar yang berkelana di malam hari. Berusaha mengingat wujudnya.

Selama beberapa bulan aku bersama mereka, aku mempelajari bahwa Kido suka hal-hal yang imut dan Seto suka hewan. Kalau begitu, maka wujud ‘kucing hitam’ ini seharusnya adalah sesuatu yang mereka berdua sukai. Seperti yang telah kuharapkan, keduanya langsung terlihat sangat tertarik kepadaku.

Kido mencodongkan badannya dari tempat tidur dan menepuk-nepuk tangannya, “Ku-kucing kecil, kucing manis, kemarilah! Ayo ke sini, ke sini!”, pada waktu yang sama Seto juga mulai memanggilku.

Setelah kulihat baik-baik, warna merah padam di mata mereka perlahan menghilang dan wujud Kido kembali menjadi utuh.

Ufufufu, imut sekali. Kalau sekarang aku melompat ke pangkuan mereka, aku yakin mereka akan sangat senang. Tapi mereka terlihat terlalu manis sekarang....mungkin aku akan menggoda mereka sedikit lebih lama lagi ♪

Kulangkahkan kakiku mendekati mereka sampai bisa dicapai—kemudian aku langsung kabur saat akan ditangkap. Kuulang hal ini beberapa kali seolah-olah ragu-ragu untuk bermain dengan mereka. Tampaknya tindakan ini menarik hati mereka dan mereka mulai melakukan hal yang makin lama semakin aneh agar bisa menarik perhatianku.

Ini sangat memuaskan. Jujur, saking senangnya diriku aku bisa tertawa dengan kencang hingga jatuh ke lantai. Mereka terlihat juga menikmati hal ini, aku tidak bisa berhenti sampai sini saja ♪

Lalu, apa selanjutnya? Mungkin aku harus melakukan sedikit tarian. Ya, itu sepertinya ide yang bagus. Dengan bahagia aku meloncat ke meja dan memulai tarian kecil. Melihat hal ini, mereka berdua mulai tertawa terbahak-bahak.

Aah, senangnya. Sudah lama aku tidak merasa sebahagia ini.

Tarianku mulai menjadi liar—‘klank’, tiba-tiba aku mendengar suara dari pintu kamar. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkannya, tetapi saat aku melihat bagaimana Kido dan Seto menatap pintu dengan pucat, aku pun juga menjadi pucat.

Aku tidak melihatnya karena aku terlalu fokus tertawa, tapi sepertinya di waktu itu, pintu dari kamar kami terbuka. Di lorong yang tersambung dengan kamar ini, petugas patroli malam tergeletak dengan spektakuler ke lantai.

Kenapa dia mendadak jatuh di situ? Kebingunganku hanya datang sesaat karena alasannya cukup mudah dipahami jika kau memikirkannya. Aku membeku, seluruh badanku menjadi dingin.

“A-apa yang harus kita lakukan, kucing kecil?” tanya Kido dengan was-was. Apa yang harus kita lakukan? Aku sendiri juga ingin menanyakan itu. Tanpa ide satu pun, aku hanya bisa mengeluarkan suara, “meong~”

........setelah itu, tampaknya kondisi mental petugas patroli itu agak terganggu dan dia pun dikirim ke fasilitas lain setelah menyatakan dia telah “memasuki ruang 107 untuk mengingatkan anak-anak di dalamnya agar tenang karena sudah larut malam, tapi malah ditemui dengan kucing hitam yang menari-nari dengan gila.”

Tanpa perlu mengatakan apa-apa lagi, tentu saja insiden itu memicu rumor-rumor yang lebih buruk lagi terhadap ruangan 107, ‘Kamar Monster’ kami.
~***~
‘Kamar 107’; terletak di paling ujung bangunan.

Aku kembali duduk di ranjangku—bagian bawah kasur yang kotor dari tempat tidur bertingkat di kamar ini. Malam ini kami kembali berdiskusi. Topik hari ini adalah – ‘Kita, yang dikatakan sebagai monster dari panti asuhan ini.....tidak bisa mengabaikan masalah ini lagi,’ atau semacamnya.

Terima kasih atas kejadian beberapa hari lalu, situasi kami sekarang sama sekali tidak meningkat. Malah, reputasi kami semakin lama semakin memburuk, bahkan ada berbagai macam gosip tersebar tentang kami di mana-mana.

Misalnya—‘Hei, kau dengar? Ada suara isak tangis yang selalu terngiang pada malam hari di toilet perempuan lantai satu....anehnya, saat dibuka tidak ada seorang pun di dalamnya!

Tambah lagi, sepertinya semuanya sepakat bahwa ‘hantu itu sering mendatangi kamar kami’. Serius deh, siapa sih yang memulai gosip ini? Bukan sering lagi—malahan dia tinggal di kamar kami!

Aku menanyakan hal ini kepada Kido, tetapi kemudian raut mukanya berubah dan dia berkata dengan penuh amarah,  Aku akan menggebuki orang yang memulai rumor ini...!” sepertinya dia tau siapa pelaku gosip itu. Untungnya, aku berhasil berbicara baik-baik dengannya untuk menghentikan itu.

Contoh lain—‘Mereka benar-benar anak-anak iblis mengerikan. Kau tau? Seorang pengurus pernah bercakap dengan anak dari kamar 107, tapi esoknya dia langsung menghilang!

Aku sangat kebingungan saat mengetahui gosip ini, tapi kemudian aku mendengar Seto berkata, “Ngomong-ngomong, sebelumnya ada pengurus yang mengenakan celana dalam perempuan. Dia langsung menghilang saat aku bertanya ‘bukannya laki-laki tidak seharusnya mengenakan itu?’ ”

 Mungkin itu juga salah kami. Namun, penyebab pengurus itu mengenakan celana dalam wanita atau pun kenapa dia pergi tidak bisa dipahami anak kecil seperti kami.

Dan gosip terakhir—‘Ada bocah yang terus-menerus mengendus kucing’.....untuk yang kali ini adalah aku. Itu sangat memalukan.

Gosip-gosip ini menumpuk hari demi hari hingga kami bahkan tidak bisa menumpasnya sedikit demi sedikit.....yah, aku mengatakan ‘kami’ tapi kedua orang ini sama sekali tidak memikirkannya, jadi aku lah yang harus mengerjakan semuanya.

Hari ini aku kembali menyusun rumor-rumor untuk menjadi percontohan. Kulihat Seto dan Kido untuk suatu saran atau semacamnya,

“Kupikir Kano menjijikkan,” Jawab Kido tanpa ada keraguan dipandangannya.

"Eh? A-ah… eh?" Mendengar jawaban tanpa ampun ini, terkadang aku berpikir apakah ada maksud tersembunyi dari perkataannya?

“Menjijikkan.”

Tidak, tidak, pasti ada yang lebih mendalam dari perkatannya

“...ah, aku bukan menanyakan apa perasaanmu mengenai aku mengendus kucing. Aku bertanya bagaimana kita lanjut dari ini....” Aku berusaha mengelak dari perkataan tajam Kido dan kembali ke topik yang sebelumnya. Kido hanya menguap ngantuk, terlihat tidak terlalu peduli dengan masalah ini.

Aku mulai merasakan air mata mengumpul di pelupuk mataku. Kenapa aku dipanggil ‘menjijikkan’? Padahal aku cuma berusaha sebisaku.

Sepertinya Seto menebak apa isi pikiranku dan diam-diam bersandar ke dekatku, “Itu tidak menjijikkan. Saya juga sering melakukannya.”

.....maaf, Seto. Kurasa memang menjijikkan melakukan itu setiap saat.

Kido mengusap-ngusap matanya sebelum berkata dengan ngantuk, “Ngomong-ngomong, seberapa lama lagi kita akan berdiskusi? Memangnya ada gunanya kita melakukan ini?”

“Uu...tidak, itu.....kau benar.” Aku tidak bisa menyanggah apapun untuk itu.

Biarpun hampir setiap malam aku mengumpulkan mereka berdua dengan tujuan berdiskusi, kami sama sekali tidak pernah menemukan cara terbaik untuk mengubah situasi kami sama sekali.

“Yah....tapi kalau begini terus, kita mungkin akan benar-benar diusir, kan?”

Seto gemetar dengan keras saat mendengar ucapanku, “Ki-kita akan diusir?”

Kira-kira terbuat dari apa kantung air mata Seto? Sebenarnya cukup hebat bagaimana dia bisa memproduksi air mata yang banyak dalam waktu yang singkat.

Aku menepuk punggungnya, “Aah, ayolah. Semuanya akan baik-baik saja, jangan menangis lagi,”  Seto mengangguk pelan sambil mengusap matanya.

Salah satu kebagusan Seto adalah bagaimana dia tidak menangis dalam waktu yang lama. Tetapi dia menangis cukup sering.

“Tidak usah dipikirkan. Kurasa masalah ini tidak akan memuncak sampai mereka mengatakan ‘pergi sekarang juga!’ atau semacamnya. Para pengurus sepertinya agak takut dengan kita, jadi jika kita bisa meningkatkan rasa suka mereka pada kita......”

“Ra-rasa suka.....?”

Meskipun aku mengatakan itu, aku tidak mempunyai ide sama sekali. Pada akhirnya, mungkinkah kami bisa meningkatkan perasaan positif mereka kepada kami?

Biarpun tidak ada lagi gelar yang lebih rendah selain ‘monster’, bisakah kami paling tidak meningkatkan reputasi kami sampai kami bisa dipanggil ‘manusia’?

“....dia ketiduran,” saat aku sedang bersusah payah berpikir, Kido terlelap dengan posisi duduk.

Pantas saja dia tidak memarahi kesopanan Seto. Baguslah, karena aku sudah bisa menebak kalau dia bangun dia akan seperti gozila mencari mangsa.

Aku meletakkan tanganku di punggungnya dan dengan hati-hati, merebahkannya ke tempat tidur. Biarpun saat bangun dia dingin dan penyendiri tapi Kido sangat imut saat dia tidur dengan tenang.

Aku tertawa lembut sambil menyucuk-nyucuk pipi Kido, “Dia tidak terlihat seperti bocah menakutkan yang bermasalah saat tidur”

Seto pun tertawa kecil, menambahkan, “Asalkan dia tidak marah.”

Pada saat itu, Kido mendengkur pelan dan Seto meloncat sambil memekik.

Seandainya orang-orang yang menyebarkan gosip dan rumor melihat mereka sekarang, pasti orang-orang itu akan terkejut dan mengatakan kalau tidak ada yang perlu ditakuti dari mereka.

Tetapi.....aku tidak pernah memberitaukan hal ini kepada orang lain. Lagipula, saat kami pertama kali bertemu bahkan aku pun takut dan memikirkan Kido itu hantu.

Seandainya kita, manusia, tidak mencoba....seandainya kita tidak berkomunikasi satu sama lain—kita tidak akan pernah mengetahui kebenarannya.

Seandainya mereka memahami itu akan lebih mudah, namun sulit untuk memberitaukan itu kepada mereka. Seandainya semua orang mengetahui itu, mungkin saja kami bisa hidup dengan tenang. Tetapi masalahnya adalah.....

Seto yang tadi terjatuh karena terkejut mulai merangkak kembali ke ranjang, “Jadi.....sepertinya ‘mata’ kita memang masalah terbesar....” katanya. Tanpa kusadari, ternyata mata Seto kembali menjadi merah,  “....maaf, saya mendengarnya lagi.....”

Aku tersenyum kecil dan berbicara dibenakku, ‘Kemampuanmu cukup berguna sekarang. Kita tidak perlu takut Kido terbangun tiba-tiba.’

 Seto tersenyum dengan bahagia dan menjawab dengan pelan, “Jika begitu mari kita gunakan dengan baik.”

‘Sungguh, kemampuan macam apa yang kau punya ini? Pasti......kekuatanmu sejenis dengan kemampuan supranatural yang pernah kita tonton di TV, kan?’

“Um...mungkin......ini berarti kita harus menanyakan hal ini kepada seseo.....rang.....” selesai dia berbicara, matanya kembali dipenuhi dengan air.

‘Ahaha, maaf soal itu. Aah, kita memang tidak bisa mengatakan tentang kemampuan ini kesembarang orang, kan?’

“Y-ya, mengatakannya ke orang lain...... terlalu menakutkan.....”

Itu benar. Di salah satu diskusi kami, kami pernah membicarakan tentang bagaimana “kita disebut ‘monster’ hanya karena kemampuan mata kita.”

Sejujurnya, semua pengetauhan kami mengenai kemampuan masing-masing datang dari pengalaman kami sendiri.  Aku sih tidak apa-apa, tapi Seto dan Kido tidak bisa mengontrol kemampuan mereka dengan sempurna, bahkan sampai sekarang.

Seandainya kami semua bisa mengendalikan kemampuan kami, aku yakin gosip-gosip tentang kami akan berkurang dari setengahnya sekarang.

Usul mengenai “bukannya seharusnya kita menanyakan hal ini ke orang dewasa?”  juga pernah dikeluarkan. Namun, kemungkinan itu hancur dengan cepat saat kami menonton sebuah serial TV pada hari itu.

Entah mengapa, pada hari itu ada serial berjudul ‘Psikometer Eiji’ tayang di TV; serial itu berkisah tentang bocah yang bisa membaca pikiran orang lain.

Baru saja kami bersenda gurau tentang bagaimana bocah itu mirip dengan Seto, si anak indigo itu malah ditangkap oleh organisasi misterius, dijadikan subyek eksperimen mengerikan, dan akhirnya mati.

...Disaat itu, ekspresi kami—terutama Seto--.....kira-kira bisa digambarkan seperti ‘telah ditinggal di dalam kulkas dan dibekukan dalam waktu yang lama’.

Dan tepat pada waktu itu kami bertiga akhirnya sadar kalau ‘orang yang memiliki kekuatan psikis akan dieksperimen dan mati.’

BTW, kupikir Seto akan merinding dan kembali menangis, tapi dia hanya tanpa suara menyelinap ke dalam selimut dan tidak keluar seharian.

Setelah itu, ‘Psikometer’ menjadi kata yang tabu untuk Seto, dan akhir-akhir ini, kata itu juga menjadi kata ajaib yang terkadang Kido gumamkan untuk mengamati reaksi Seto.

Dan karena itulah kemampuan kami tetap menjadi sebuah rahasia, terkurung di dalam kamar ini dan hanya kamar ini.

‘Ada banyak hal yang masih belum kita ketahui tentang kemampuan ini, maksudku—kita bahkan tidak tau darimana asalnya dan alasan kemampuan ini muncul.....kalau dipikir-pikir bukankah itu agak menakutkan?’

“Memang menakutkan....malah kemampuan saya dan Kido dapat aktif mendadak....” Seto mengembuskan napas.

Tampaknya kekuatan dari kemampuannya untuk ‘membaca pikiran orang lain’ bervariasi sesuai tempat dan waktu. Saat kemampuannya berada di titik terkuatnya, dia bahkan bisa merasakan ‘emosi’ dan ‘kenangan masa lalu’ tagetnya.

Sebaliknya, kalau kemampuannya tidak diaktifkan sepenuhnya seperti sekarang, dia hanya bisa membaca ‘perkataan yang dipikirkan targetnya secara sengaja dan sadar’

Seto pernah dengan kikuk menjelaskan rincian kemampuannya kepadaku, tapi masih ada berbagai macam hal yang hanya bisa dimengerti oleh pemilik kekuatan yang sebenarnya.

‘Kalian berdua benar-benar memiliki kemampuan yang merepotkan. Apalagi Kido; siapapun yang memandangnya dapat melihat kapan kemampuannya aktif’

Meskipun sekarang kemampuan Kido tidak sesulit dulu untuk diprediksi, Kido sepertinya masih tidak bisa mengendalikan kemampuan ‘menghilang’nya.

Dia menyatakan kalau kemampuannya aktif saat dia marah, tapi apa. penyebab. sebenarnya?

Untungnya, belum ada hal yang sangat buruk terjadi....aku ingin berpikir seperti itu, tetapi bagaimana pun juga, mempelajari bagaimana mengontrol kemampuan kami sebelum situasi terburuk benar-benar terjadi sangatlah penting.

Sungguh.....apakah ada cara agar kami bisa keluar dari masalah ini?

“Seandainya saja paling tidak kita dapat menahan kekuatan kita....pasti bagus....”

‘Menahannya, huh....? Yah, pertama-tama kau harus fokus mencoba menahan air matamu dulu, oke?’ Aku tersenyum saat aku berbicara dalam benakku. Seto memerah bersamaan ia mengangguk dan bergumam setuju.

‘Kau tau, aku serius berpikir mungkin hal itu benar-benar berhubungan. Soalnya kemampuanmu dan Kido tidak aktif saat kalian tidak menangis’

“Te-tetapi untuk saya hal itu mustahil....saya sangat ingin berubah, namun sungguh sulit melakukan itu.....” Seto terlihat sedih.

‘Ngomong-ngomong, kau juga belum merubah kebiasanmu berbicara dengan sangat sopan’

“Uu...iya. Saya memohon maaf,” melihat bagaimana hatinya remuk, sudah jelas kalau ia tidak melakukannya dengan sengaja. Kido seharusnya telah mengetahui ini, tapi sampai sekarang dia tidak menunjukkan tanda-tanda menghentikan prilaku kasarnya terhadap kebiasaaan Seto.

Sejujurnya, melihat kesulitan mereka menangani situasi ini membuatku makin merasakan kekapabilitasanku sendiri. Itu terasa agak mengerikan.

Tidak....kebanyakan anak-anak disekitarku pun tidak terlalu berpikir sepanjang diriku...ah, aku sangat membenci bagian diriku yang memandang rendah ‘perikemanusiaan’ orang lain.

“Tetapi, engkau sungguh hebat, Kano. Anda dapat mengendalikan kekuatan anda dan bahkan bisa menolong kami dengan kemampuan kami.” Seto tersenyum ketika ia mengatakan itu, tapi entah mengapa aku tidak merasa senang sama sekali saat mendengarnya.

‘Ehh? Itu gak benar kok! Aku sama saja dengan kalian berdua. Masih banyak hal yang tidak kuketahui, hal yang kutakuti.....’

"……Huh?" Seto yang seharusnya bisa membaca pikiranku tiba-tiba sedikit memiringkan kepalanya.

Aku bergegas menatapnya dan tepat pada waktu itu warna merah padam lenyap dari matanya, digantikan dengan warna aslinya.

“A-aneh sekali. Saya rasa kemampuan saya terhenti! Hmm....maafkan saya, jadinya selalu begini.” Seto menundukkan kepalanya.

Kupaksa sebuah senyuman di wajahku, “Um, aah, gakpapa kok, gakpapa! Tidak usah mengkhawatirkannya.”

“Tetapi, perihal terakhir yang anda pikirkan sebelumnya......saya kurang memahaminya.....”

“....Oh, begitu yah. Itu pasti—yah, karena kemampuanmu mulai berhenti, perkataanku jadi campuraduk dan berantakan, kan?”

“I-iya, mungkin anda benar. Aaaaah.....kekuatan ini jahat sekali, mendadak muncul dan menghilang tanpa peringatan.” Pundaknya merosot ketika ia berbicara.

“Jangan pikirkan, itu tidak terlalu buruk. Melihatmu rewel tentang kemampuan juga cukup lucu loh.” Kataku bergurau. Seto pun menggembungkan pipinya seperti berkata “Saya mohon jangan mengolok-ngolok saya!”

“Tetapi saya....benar-benar harus berubah! Saya tidak terlalu nyaman selalu menyusahkan semua orang seperti ini.” Kata Seto dengan semangat. Tidak seperti dirinya yang malu-malu tadi, dia tiba-tiba terlihat cukup bisa diandalkan.

“Ahaha, yah, lakukan perlahan saja. Meski kau tidak bisa berubah dalam sekejap, itu—“ “—tidak bagus”

Kido lah yang mendadak menyela perkataanku. Wajah tidurnya yang imut digantikan dengan raut wajah menusuk yang biasanya dan dia sekarang sedang melototi Seto dengan tajam.

“Terlalu sopan. Kapan kau akan menyingkirkan kebiasaan menjengkelkanmu itu?” sahutnya pelan, Seto pun sontak mendecik kecil.

Biarpun aku sudah terbiasa dengan dialog semacam ini, entah mengapa sekarang aku merasa sangat kesal dan aku menyangkalnya sebelum aku bisa memikirkan kalimatku dengan benar, “....sikapmu itu tidak bagus tau.”

Kido yang masih rebahan memindahkan pandangannya dari Seto ke aku saat aku berbicara, “Apa katamu?” Kido perlahan berdiri dan melototiku ketika ia mengatakan itu.

Biasanya kalau sudah sampai seperti ini aku pasti akan tersenyum dan mencoba memuluskan permasalahannya, tapi entah kenapa hari ini aku tidak bisa menenangkan amarahku sendiri.

“Apakah kau tidak mendengar apa kata Seto? Bukannya dia baru saja bilang dia ingin berubah?”

“Tapi dia masih belum berubah, kan? Biarpun aku sudah mengatakannya berulang kali,” Tanpa menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah, Kido mengucapkan keberatan.

Mendengar perbincangan kami, Seto menyuarakan “U-um...” pelan seperti mencoba melerai kami. Tapi tidak ada lagi yang bisa menghentikanku sekarang.

“....sikapmu membuatku marah.”

Aku seharusnya bisa—aku harus—berhenti berbicara, tapi aku telah mengutarakan perasaanku yang sebenarnya. Tepat setelah itu, semua pikiranku mengalir keluar dari mulutku tanpa bisa berhenti.

“Kau tidak memikirkan orang lain, kau terus-menerus menjadi keras kepala, dan hanya memikirkan kemauanmu saja setiap hari! Memangnya kau pikir kau siapa? Jujur, aku tidak bisa lagi terus lanjut setuju dengan apa yang kau lakukan. Dan Kido, kau—“

Hantaman keras melayang dengan cepat ke wajahku, membuyarkan pandanganku. Sejenak otakku membeku—tidak paham apa yang terjadi, tapi pekikan teror Seto yang sangat pelan menyadarkan aku kalau Kido telah menamparku.

Kulototi Kido, “Itu sakit,” Perasaan negatif yang tidak pernah kurasakan selama ini mulai mengisi hatiku.

Kido pun dengan jelas menunjukkan kebenciannya melalui ekspresinya, “Siapa yang kau bilang tidak pernah memikirkan orang lain? Kau juga sama. Kau tidak tau apa-apa tentang diriku,” Perlahan, mata Kido berubah menjadi merah padam dan tangan keji yang menamparku tadi mulai menghilang sedikit demi sedikit.

Biarpun aku sudah melihatnya mengaktifkan kemampuannya, aku tidak menenangkannya seperti biasanya dan hanya menyuarakan rasa jijik, “Apa yang kau lakukan selama ini hanya menggebukiku, bagaimana aku bisa tau apapun tentang dirimu? Aku bukan Seto, tau? Dan lalu apa, kau hanya akan menghilang lagi? Enak yah, punya kemampuan yang cocok sekali.”

Pastinya ada cara lain yang lebih baik untuk mengatakannya, tapi sekarang aku hanya membiarkan diriku terbawa arus emosiku dan mengucapkan kata-kata ejekan itu.

Sekilas ada kebingungan muncul dimimik muka Kido—bagai tidak mengerti, namun kemudian darah langsung memuncak ke wajahnya, meluap dengan kemarahan, dan menarik kerahku dengan kasar, “KAU!”

Aku terjatuh, tidak bisa melakukan apa-apa disaat Kido tiba-tiba mendorongku dengan seluruh kekuatannya. Aku ingin melawan balik, tapi biarpun aku sudah meronta-ronta dengan seluruh tenagaku, aku masih tidak bisa merubah posisi semulaku. Sayangnya, tidak ada yang bisa menyangkal kalau Kido sungguh lebih kuat dariku. Dia terus menerus menindihku dan menyerang wajahku tanpa ampun dengan tamparan-tamparan yang berulang. Seto hanya bisa mengeluarkan “eek...!” saat mendengar suara pukulan.

“....sakit...!....Apa? Kau hanya akan....”

“Berisik! Diamlah!!!”

Aku membuka mulutku namun Kido segera meletakkan kedua tangannya di bibirku. Tidak bisa berbicara, aku hanya bisa berdecit dan menendang-nendang udara.

Selama aku masih dibungkam, air mata Kido mulai menetes ke wajahku, “...Kano...aku....membencimu...!”

Hatiku serasa terkoyak-koyak saat mendengar perkataan Kido. Bahkan kakiku juga kehilangan seluruh kekuatannya.  Ini berbeda dengan perasaan sakit membakar dari dihantam. Ini...diriku merasakan kepedihan mendalam yang pahit....serasa telah direndam ke dalam air es.

Melawan ketakutan membutakan yang mulai terbangun di dalam diriku, aku mendorong tangan Kido. Tangannya kembali ke wajahnya dan menutupinya saat dia mulai merengek pelan.

Aku bahkan tidak bisa memikirkan apapun untuk dikatakan kepadanya yang menangis.

Apa yang harus kukatakan? Sekarang dia telah mengatakan kalau dia membenciku, apa yang bisa ku—

“—makasih sudah menamparku.”

Otakku yang sedang berusaha keras memikirkan jawaban untuk dikatakan ke Kido malah disela oleh mulut bodohku yang mengeluarkan kalimat mustahil.

Aku sangat kesusahan. Aku sama sekali tidak berencana mengatakan hal seperti itu, tapi...kenapa aku malah....?

Kido tampak tertegun mendengar perkataanku dan pada saat itulah aku sadar kalau aku telah melakukan sesuatu yang tidak bisa kutarik kembali.

Sejujurnya, aku lebih ingin dia memukulku seperti biasanya.

Jika itu bisa membuatnya senang, jika itu bisa membuatnya tidak membenciku, aku tidak peduli jika aku berakhir dengan lebam-lebam dan mata biru. Toh aku ini tidak berharga sama sekali.

Namun, Kido tidak mengangkat tangannya untuk menamparku lagi. Dia hanya menyapu air matanya dengan tangan yang membungkamku sebelumnya. Dia menjauh dari tempat tidur tanpa mengeluarkan suara.

“Tu-tunggu, Kido! Aku minta ma—“ “—cukup. Jangan bicara denganku.”

Aku mencondongkan diriku keluar dari tempat tidur untuk berbicara tapi Kido hanya menjawabku dengan dingin tanpa berbalik sama sekali.

Saat aku masih bingung bagaimana aku menanggapi sikap dinginnya, Seto bergegas maju dan mengatakan, “I-ini semua salah saya!” Setelah itu, ia menutup mulutnya, menyadari kalau dia berbicara terlalu sopan lagi.

Biarpun aku biasanya tidak terlalu memikirkan kebiasannya yang ceroboh, sekarang, bahkan diriku merasakan sedikit kebencian terhadap kesopanan itu.

Namun Kido tidak menegur ucapan Seto seperti biasa dan hanya mengatakan dengan pelan, “Seto juga. Cukup. Aku akan pergi dari tempat ini.”

Aku dan Seto membeku saat mendengar kalimat terakhirnya.

“A-apa yang kau...?

“Seorang pengurus pernah berbicara denganku tentang ini. Katanya ada yang mau mengadopsiku....tadinya aku akan menolaknya, tapi sekarang aku sangat ingin pergi dari tempat ini.”

“A-anda bergurau saja, bukan!? Hal seperti itu....” tanya Seto tiba-tiba, dan akhirnya Kido pun berputar, “Aku tidak bergurau. Dan sudah kubilang jangan terla.....ah sudahlah.”

Kido meringis sedikit sebelum berbalik kembali dan mengubur dirinya ke dalam selimut tempat tidurnya, “Kalau kau berbicara denganku lagi...aku akan benar-benar meninjumu.” Meninggalkan peringatan terakhir, dia tidak berbicara lagi.

Jadi tadi itu bukan pukulan sungguhan?

....setelah itu keheningan berlanjut. Aku dan Seto tidak memandang satu sama lain. Kami malah terus menerus menatap ranjang Kido.

Anehnya, Seto tidak menangis, dia juga tidak terlihat menahan air matanya. Mungkin otaknya masih belum selesai memproses apa yang baru saja terjadi karena shok.

Aku tidak bisa bicara sekarang. Otakku pun berada di dalam kepusingan yang sama.

Aku tidak mungkin bisa memperbaiki situasi ini setelah dia mengatakan kalau dia membenciku dan tidak ingin aku berbicara dengannya. Mungkin karena Kido mengetauhi tentang ini, dia melakukan itu. Memperlakukan orang yang katanya ia ‘benci’ seperti musuh....adalah hal yang benar.

“....apa yang akan terjadi pada kita?”

“.....yah....”

Aku memberi jawaban super singkat kepada pertanyaan mendadak Seto, menyandarkan punggungku yang lelah ke ranjangku dan menutup mataku. Jika aku tidak melakukan itu, aku pasti hanya akan melampiaskan amarahku kepadanya.

Seto diam sejenak sebelum dengan gagap mencoba memulai kalimat lain, tapi dia menyerah setelah melihat responku yang kurang. Dia menaiki tempat tidur di atas sambil mengatakan “Saya memohon maaf sebesar-besarnya.”

Setelah beberapa lama, suara isak tangis yang pelan terdengar dari atasku. Setelah beberapa menit tangisannya berhenti dan kesunyian menyerang seluruh ruangan.

Di dalam kesenyapan berbagai macam pikiran mulai muncul di dalam benakku, namun tidak ada satu pun yang bisa mengembalikan kami ke kebahagiaan kemarin. Di tengah-tengah pikiran ini aku tertidur tanpa sadar.

Tanggal pengadopsian Kido hanya tinggal seminggu lagi.
~***~
Dalam satu minggu, kami tidak mengucapkan satu bilah katapun kepada satu sama lain.

“Aah, cuacanya bagus, bukan? Cocok buat piknik~” suara yang datang dari kursi pengemudi terdengar ceria dan riang, bagai berusaha memecah keheningan tidak nyaman yang berada di dalam mobil ini.

Duduk di belakang, aku tidak menjawab dan hanya mengembuskan napas.

....ini bukan karena aku dengan sengaja bermaksud untuk bersikap dingin sih.

Di luar jendela mobil ini, semua pejalan kaki yang lalu lalang di trotoar mengenakan jaket yang tebal. Membicarakan tentang piknik dengan pemandangan yang sudah jelas menunjukkan suhu sangat rendah di luar.....aku akan mati kedinginan seandainya kami benar-benar akan pergi piknik. Aku kan tidak tahan dengan cuaca dingin.

Tapi kalau aku mengatakan hal itu mungkin aku bisa dianggap sebagai bocah kasar yang tidak peka. Itu akan merepotkan. Karena itulah aku menyimpan berbagai pikiranku ke dalam diriku sendiri dan hanya mengeluarkan helaan napas.

“Te-tetapi, mungkin ini masih terlalu dingin untuk pergi piknik...” ,ungkin karena dia tidak tahan lagi dengan kesunyian di dalam mobil, Seto berbicara dengan senyum yang dipaksakan dari tempat duduk di samping pengemudi.

Awalnya kupikir dia membaca pikiranku lagi, tetapi tampaknya tidak begitu. Soalnya matanya tidak berubah menjadi merah padam.

“Apa yang kamu katakan~?  Bukannya cuaca seperti ini tidak ada apa-apanya untuk anak-anak? Ayo kita mulai bersiap untuk piknik setelah kita sampai di rumah!” suara yang riang kembali menggema dari kursi pengemudi.

Seto terlihat agak kesusahan, tapi dia hanya tertawa kecil, terlihat bingung harus melakukan apa lagi.

Ini agak mengejutkan kalau ditinjau dari kepribadiannya, tapi sebenarnya Seto adalah tipe yang suka bermain diluar. Dia sering pergi keluar sendirian dan pulang dilumuri dengan lumpur, dia seperti sudah bermain dengan binatang seharian.

Pada suatu hari di bulan lalu juga sama. Biarpun aku sudah meringkuk di dalam kamar, kedinginan—Dia malah berlarian seharian di luar. Dan karena itulah, Seto mengatakan sesuatu seperti “terlalu dingin untuk pergi piknik” adalah hal yang aneh.

Tapi aku paham kenapa Seto memilih untuk memberikan kebohongan kecil itu. Bagaimana pun juga, pergi pinik di hari dingin hanya akan membuat kami terjebak dalam situasi memalukan yang buruk.

Diam-diam kulirik ke sebelahku dan sekilas pandanganku bertemu dengan Kido yang duduk di belakang kursi Seto. Dia langsung terlihat kesal dan memutar pandangannya ke jendela mobil disampingnya.

Aku diberi harapan palsu saat mata kami sekejap bertemu, pundakku hanya bisa merosot jatuh melihat prilakunya yang tidak berubah. Pada waktu yang sama, aku merasa sebal dan memalingkan diri untuk melihat keluar jendela disampingku.

Sejak perkelahian kami saat diskusi minggu lalu, aku dan Kido masih belum berbaikan. Karena kami tinggal di ruangan yang sama, mustahil untuk tidak bertemu sama sekali. Namun, biarpun sudah sampai batas di mana sulit untuk mempertahankan tingkah seperti ini kepada satu sama lain, kami yang keras kepala memilih tetap bungkam.

Seto sering terlihat gugup sekitaran waktu seminggu itu, tapi mungkin dia tau kalau campurtangannya hanya akan merumitkan masalah, dan akhirnya dia tidak mengatakan apapun semasa perkelahian kami.

Yah, bukannya aku tidak ingin berbicara dengan Kido. Sebaliknya, aku malah ingin memperbaiki hubunganku dengannya secepat mungkin.

Terkadang ada saat aku berjalan ke arahnya tanpa menyadari apa yang kulakukan. Tetapi, Kido akan melototiku dengan tajam di saat aku mendekatinya dan terus menolak memperbaiki hubungan kami.

Selain itu, dia juga mengatakan untuk jangan berbicara dengannya lagi, tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Akhirnya, kesenyapan yang merana terus membentang sampai hari ini......

“Ah, ngomong-ngomong, maaf yah semuanya terjadi begitu mendadak~ Apakah pengelola panti asuhan tidak memberitau kalian kalau kami akan mengadopsi kalian bertiga?”

Mereka belum, makanya perkembangan ini memang cukup tiba-tiba.

Orang-orang yang akan mengadopsi kami memiliki nama belakang ‘Tateyama,’ dan dari awal mereka memang bermaksud untuk mengasuh kami bertiga, bukan hanya Kido.

Tentu saja aku dan Seto tidak tau apa-apa tengtang itu sebelum dua hari lalu, saat pengelola panti memanggil kami untuk berbicara.

Kurang masuk akal untuk mendadak memberitau kami kalau keluarga baru akan menjemput kami dua hari lagi di saat kami bahkan belum pernah sekali pun berbicara atau pun melihat mereka. Biarpun kami dianggap sebagai monster kami masih anak-anak, perlakuan ini terlalu kejam.

Intinya, paling mereka hanya ingin kami keluar secepatnya dari panti asuhan, tapi cara mereka yang cukup kasar membuat kami agak marah.

Biarpun ada pilihan untuk menolak, aku dan Seto langsung setuju untuk diadopsi. Lagipula kami tidak menyayangi atau pun menyesal meninggalkan panti asuhan itu.

Dan yang paling penting adalah ini merupakan kesempatan yang bagus untuk kami karena kami cukup depresi memikirkan kemungkinan Kido akan meninggalkan kami sebelum kami bisa berbicara dengannya kembali.

“Sa-sama sekali tidak! Kami sangat senang kami bisa diadopsi dan diasuh bersama! I-iya kan, teman-teman....?” kata Seto yang berbalik ke arah kursi belakang

‘Kenapa kau malah berbalik, bego,’ kataku dalam benakku, tapi sayangnya mata Seto tidak berubah menjadi merah padam jadi aku hanya ditemui dengan ekspresinya yang mengatakan, “Tolong paling tidak katakan ‘iya’ “

Kalah, aku pun akhirnya menjawab, “Sangat senang”

Sebaliknya, Kido tidak merubah mimik kesal yang tertempel di wajahnya dan hanya memberi dengkuran setuju tak jelas yang malas.

Seto mulai berguncang dengan senyum kaku masih di wajahnya, dia bagai berkata “Tidak bisakah kalian menjawab dengan lebih baik....?”

....Yah, aku bisa mengetauhi ini bukan karena aku mempelajari kemampuan Seto melainkan karena dia terlalu mudah untuk dibaca.

Namun, biarpun Kido terlihat kurang senang dengan semua ini, dia juga tidak rewel saat dia mengetahui kalau kami akan ikut dengannya. Sejujurnya, aku sangat khawatir dia akan mengetakan sesuatu seperti, ”Kalau kalian ikut aku tinggal”, tapi syukurlah kekhawatiran itu tidak diperlukan.

Tapi.....melihat sikapnya tadi, dia mungkin masih belum memaafkan kami. Mau tak mau aku hanya bisa merasa sedikit kecewa memikirkan itu. Di masa depan di mana kami akan bersama nanti, bisakah kami memperbaiki hubungan kami?

“Ba~ik~lah, kita sampai~! Ayo, turun, turun!”

Saat mobilnya berhenti di parkiran, kami turun satu persatu dan melihat sebuah rumah kecil berbata merah. Menemui arsitektur bangunan yang asing, aku dan Seto memandang dan mengamati lingkungan baru kami.

Kami mungkin memikirkan hal yang sama –“Apa rumah seperti ini lazim di daerah ini?” Struktur rumah ini terlihat cukup berbeda dengan bangunan perumahan biasanya.

“......Imut.” gumam Kido pelan.

Aku berbalik ke arahnya, tapi segera saat mata kami bertemu wajah Kido langsung menjadi merah gusar dan dia melototiku seperti mengatakan “Apa yang kau liat, bangsat?”

Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu untuk menjelaskan perbuatanku, tapi mengingat bagaimana pada malam itu Kido pernah berkata, “Kalau kau berbicara denganku lagi...aku akan benar-benar meninjumu,”  Aku memilih untuk bungkam.

Ah....iyayah. Kido suka hal-hal imut.

Kurasa rumah seperti inilah yang biasa dipikir gadis sebagai ‘imut

Mempertimbangkan ini, sebuah ide muncul di otakku.

Seandainya aku kembali menjadi kucing, apakah itu akan membuat Kido senang?

Terakhir kali aku melakukan itu, Kido terpukai sampai-sampai dia sepertinya lupa kalau kucing itu sebenarnya aku.

Kenapa aku tidak pernah memikirkan ini? Benar juga, bukannya itu cukup mudah? Seandainya aku melakukan itu sekali lagi....

“Ayo, ayo! Cepatlah masuk~!”

Lewat dari pintu masuk terpampang interior yang sangat berbeda dengan eksterior unik rumah ini. Dalamnya sama saja seperti rumah-rumah biasa yang sering kulihat di TV.

Tempat ini memiliki aroma berbeda dari ruangan yang dulu pernah kutinggali, membuatku makin menyadari kalau aku akan tinggal di sini mulai sekarang.

“Hehe, bagaimana menurut kalian dengan tempat tinggal baru kalian? Kalian bisa menggunakan apapun yang kalian perlukan--.....ah iya, aku lupa kalau aku belum memperkenalkan diriku. Aku Tateyama Ayaka. Terserah kalian mau memanggilku okaa-san atau tidak, tapi apapun yang kalian pilih, aku berharap kalian akan menganggapku sebagai keluarga kalian.”

Ayaka-san menyapu bersih segala ketidakpastian yang kupendam dalam hatiku selama ini dengan senyumnya yang cerah.

“Se-senang bertemu denganmu.” Setelah aku selesai berbicara, Ayaka-san menjawab, “Yup, senang bertemu denganmu juga!” dan mengelus kepalaku.

Aku yang agak malu menatap Seto dan Kido, tapi keduanya hanya menatapku balik dengan ekspresi iri. Ayaka-san yang menyadari ini berbalik ke arah mereka dan kembali mengatakan, “Senang bertemu dengan kalian juga~!” sambil mengelus kedua kepala mereka.

Mungkinkah telapak tangannya mempunyai semacam kekuatan yang bisa menenangkan? Mereka berdua seperti sangat puas saat menerima elusan kepala Ayaka-san.

“Lalu~ Bagaimana kalau kalian bertiga bermarin di kamar kalian sampai kakak perempuan kalian pulang?”

Mendengar ini, kami bertiga mendadak beku.

“Ka-kakak perempuan....?” Seto bertanya dengan hati-hati, kemudian Ayaka-san terlihat sedikit heran, “Hmm? Kalian akan mempunyai kakak perempuan yang lebih tua setahun dari kalian...aneh, pengelola panti tidak memberitau kalian yah?”

Sebenarnya aku ingin bilang, “Maaf, sebenarnya pengelola panti sama sekali tidak memberitau kami apapun” tapi Seto segera menjawabnya, “A-aah! Dia pernah mengatakan yang semacam itu, iya!” jadi aku hanya bisa mengangguk pelan.

Ayaka-san sudah menerima kami dengan sangat hangat, karena itu kami tidak perlu menyangkal pernyataannya atau memperdalam masalah di panti asuhan itu.

Lagipula, jika kakak baru kami adalah anaknya pasti dia juga seorang perempuan yang baik dan lembut.

Aku dan Seto memandang satu sama lain dengan anggukan kecil dan suara setuju, menandakan kalau pikiran kami berdua sama.

Pada waktu seperti inilah kami bisa merasakan ikatan yang tumbuh selama berbulan-bulan mengurus emosi Kido yang mengebu-ngebu. Yah......saat aku mengatakannya seperti itu, kedengaran menyedihkan sekali.

Kido sendiri yang sepertinya tidak bisa memahami pikiran kami malah gemetaran dan menjadi pucat.

“Ah? Ada apa? Kamu tidak apa-apa?”

“Ti-tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.....” Jawab Kido dengan nada yang lemah kepada pertanyaan Ayaka-san.

Ayaka-san yang mungkin sadar kalau Kido tidak terlihat baik-baik saja sama sekali  kembali mengelus kepala Kido dan bertanya, “Apakah kamu khawatir mempunyai seorang kakak?” mengejutkannya, ekspresi Kido langsung menjadi normal dan dia mengeluarkan, “Tidak...” pelan.

Sepertinya telapak tangan Ayaka-san benar-benar mempunyai kekuatan spesial.

Setelah kejadian di pintu masuk tadi, kami akhirnya masuk menelusuri rumah ini lebih jauh. Di ujung koridor, di samping tangga ke lantai dua, ada pintu yang bertanda ‘Kamar Anak-Anak’

“Ini sedikit mendadak, tapi mulai hari ini, ruang ini akan menjadi kamar kalian!” Ayaka-san mendorong pintunya terbuka ketika ia berbicara. Pandangan kami bertemu dengan ruangan besar yang terang benderang—sangat berbeda dengan ‘Kamar 107’ yang paling kami benci.

“Wow...” Seto mengembuskan napas kagum. Matanya berbinar-binar, dia seolah-olah memiliki beberapa ide brilian untuk masa depan kami di sini.

 Kami bergegas masuk ke dalam ruangan itu, mencari obyek-obyek yang menarik.

Ada lemari yang berisi berbagai macam mainan, rak buku yang diisi dengan susunan cerita-cerita pahlawan berkostum yang sangat banyak, dan hal lainnya.....hati kami meloncat kegirangan saat mengamati setiap benda yang ada di ruangan ini.

“Aah~ sepertinya kalian suka kamar ini. Itu bagus! Kalau begitu, sebelum kakak kalian pulang, tetaplah di sini dan jadi anak baik-baik, oke?” Ayaka-san kembali memberikan senyuman saat ia berbicara sebelum menutup pintunya, meninggalkan kami bertiga di dalam Kamar Anak-Anak. Dengan itu, ketakutan terhadap ‘kakak baru’ mulai menyerang benak kami.

Saat Ayaka-san bersama kami, ketakutan ini tidak terlalu seberapa. Tetapi setelah mengetahui kami akan berhadapan dengan kakak kami, kegelisahan kecil muncul.

Kupandang kedua lainnya dengan tatapan yang kebingungan, tak menejutkan lagi, mereka bereaksi sama sepertiku—duduk menatap lantai sambil gemetar disko.

Biarpun situasinya sudah separah ini, mendiskusikan “apa yang akan kita lakukan selanjutnya”  bukanlah ide yang bagus. Soalnya, Kido mengancam akan memukulku jika aku mencoba membuat konversasi dengannya. Aku tidak ingin mempertaruhkan hidupku untuk hal itu.

Keheningan tidak nyaman membentang. Sungguh....bisakah kami hidup dengan tenang di rumah ini.

Seto terus menerus melirikku. Apakah dia berharap aku melakukan sesuatu untuk situasi ini?

Sialan.

“....Aku mau ke toilet.”

Aku yang menjadi gugup karena kegelisahan dan kesunyian ini pergi keluar tepat setelah aku berbicara.

Saat aku sampai di pintu, Seto sekilas memandangku dengan mata berkaca-kaca yang mengatakan, “Tolong jangan tinggalkan saya sendirian di sini!” tapi aku yang cukup kejam menutup pintu dibelakangku.

Aku bergumam “Kau bisa melakukannya, Seto!” kepada diriku sendiri, sebelum pergi....ke tempat yang mungkin toilet.

Setelah beberapa langkah menyusuri koridor, aku menemui pintu yang berlabel ‘WC’. Biarpun aku tidak paham arti dari huruf bahasa Inggris, bahkan aku pun tau apa arti dari WC.

Aku masuk ke dalam dan mengeluarkan embusan panjang. Entah mengapa berada di sini membuatku merasa lebih tenang. Mungkin karena aku berbagi kamar dengan yang lain, tempat satu-satunya di mana aku bisa benar-benar santai adalah di dalam toilet.

Tapi, setelah ini apa yang harus kulakukan? Seandainya aku kembali, untuk sekarang kamar itu hanya akan dipenuhi dengan ketidaknyamanan. Dan lagi, seandainya aku bersembunyi di dalam toilet, hal itu mungkin akan membuat orang lain di keluarga ini menjadi khawatir.

Sungguh, apa yang harus kulakukan.....

“Aku pulang!”

Tiba-tiba, suara yang masih bisa terdengar jelas bahkan dari balik pintu WC berbunyi dari pintu masuk. Mendengar suara itu, jantungku berdetak secepat orang yang sudah berlari keliling Jepang.

Tepat setelah itu, ada derai langkah kaki yang penuh semangat, suara pintu yang dibuka, dan keheningan yang mendadak.

Mudah sekali menyimpulkan kalau ‘kakak perempuan’ kami telah pulang. Dinilai dari suaranya, dia sepertinya orang yang cukup lincah. Bukan tipe yang gelap dan licik. Tunggu, mungkin saja—bagaimana kalau dia benar-benar tipe yang licik....?

....Ah, apa yang kupikirkan?

Dari dulu sampai sekarang, bukankah aku adalah target kebencian orang-orang yang menganggapku ‘jahat’ sebelum mencoba mengenal diriku?

Biarpun begitu, aku baru saja melakukan hal yang sama dengan mereka hanya dengan mendengar suaranya. Jahat sekali aku.

Aku tidak akan tau pasti sebelum aku melihatnya. Begitulah manusia. Dengan tekad yang kuat, aku keluar dari toilet.

Dari suaranya, dia pasti langsung pergi ke Kamar Anak-Anak segera setelah dia pulang. Berarti, mungkin Seto dan Kido sudah menyelesaikan perkenalan mereka dengan ‘kakak perempuan’ baru kami.

Biarpun mereka pasti malu-malu, seandainya itu adalah mereka berdua aku yakin mereka akan baik-baik saja. Meskipun mereka tidak bisa berbincang dengan baik karena gugup, paling tidak mereka tidak akan mengatakan sesuatu yang terlalu kasar atau dingin. Mungkin saja mereka sudah mengobrol dengan bahagia sekarang.

Ketika hipotesis-hipotesis ini berada di dalam otakku, aku mendekati pintu Kamar Anak-Anak, menghirup napas dalam-dalam dan meletakkan tanganku di gagang pintu. Namun, saat aku akan membuka pintunya, suara “Gueh!” yang aneh datang dari dalam.

....Tunggu sebentar. Aku pernah mendengar suara ini sebelumnya....di suatu tempat. Dulu sekali.....rasanya....di taman.....?

Ketika pikiranku mendekati kesimpulannya, aku menyadari sesuatu yang tidak dapat dipercaya dan membuka pintunya dengan cepat.

Seperti yang kuduga, aku melihat seorang gadis yang meringkuk di lantai, merintih kesakitan. Berdiri di sisi yang lain, pandangan Kido bolak-balik dari aku dan gadis yang terjatuh, “Ke-kenapa dia tidak berubah kembali saat aku memukulnya....Kenapa ada dua Kano...?”

Setelah melihat situasinya sampai sini, aku langsung membanting pintu Kamar Anak-Anak dan berlari kembali ke toilet, mengunci pintunya dan memeluk lututku.

“Ya Tuhan, kumohon jangan....” Ini sangat-sangat buruk. Biarpun tidak ada gunanya komplain ke dewa yang keberadaannya mungkin ada atau tidak, aku tidak bisa menghentikan diriku menyuarakan benakku.

Siapa yang bisa menebak kalau ‘kakak perempuan’ku merupakan gadis yang dulu kutemui di taman....?

Ini adalah kebetulan yang keterlaluan. Memangnya hal seperti ini benar-benar bisa terjadi di dunia nyata? Lebih tepatnya, siapa sih yang bertugas membuat hal-hal seperti ini terjadi? Sebaiknya kau mengaku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu

......Tidak, seandainya kejadian ini hanya ‘kami bertemu kembali setelah sekian lama’, mengatakan “Oh, kebetulan banget!” akan cukup. Tapi melihat posisinya tadi, dia pasti telah dipukul dengan keras oleh Kido. Tidak diragukan lagi.

Kalau kupikir-pikir, dia pasti berlari ke kamar itu dan mengatakan sesuatu seperti “Aku kakak kalian~!” untuk memperkenalkan diri.

Interaksi semacam ini bukanlah sesuatu yang aneh sama sekali kepada adik-adik barunya. Malah, itu adalah peristiwa yang membahagiakan. Namun, dari sudut pandang Kido gestur manis itu pasti adalah hal yang sangat tidak bisa dimaafkan.

Saat sedang gelisah menunggu kedatangan dari ‘kakak baru’, aku yang sekarang masih terlibat dalam perkelahian dengannya tiba-tiba menerobos masuk dengan wujud gadis yang sering kugunakan dan mengatakan sesuatu segila “Aku kakak kalian~!”

Yah........

“......Dia pasti akan menggebukiku,” Ketukan keras yang tiba-tiba datang dari pintu menenggelamkan gumamanku. Aku tidak dapat menghentikan jerit ketakutan karena itu.

“Kau di dalam, kan? Keluar. Sekarang,” Kido berbicara dengan nada yang sangat tenang, tapi yang kudengar hanyalah “Kubunuh kau.”

Selama seminggu ini aku telah menanti-nanti waktu Kido akhirnya akan berbicara denganku lagi, tapi aku tidak pernah berpikir hal itu akan terjadi pada situasi seperti ini. Dunia ini sangatlah kejam.

“Pe-perutku agak sakit.....”

“Aku paham. Aku akan mengakhiri kesengsaraanmu, jadi keluarlah.”

“Eeeeek--! A-ayolah, berikan aku sedikit pengertian.....! Aku tidak tau kalau hal ini akan terjadi....!” aku memohon dengan nada yang mungkin merupakan suara paling menyedihkan yang pernah kugunakan selama hidupku.

Tepat setelah itu, DUAK yang nyaring menggema dari pintu, seperti akan didobrak.

“Aaah, aku tidak bisa kabur sekarang. Seandainya aku menerima hantaman ini, aku mungkin akan mati.” Dengan kesadaran ini, aku membuka pintu dengan pasrah. Tanpa perlu dikatakan lagi, wajah Kido dipenuhi dengan kegeraman yang dasyat.

“Ada kalimat terakhir?”

“...kalau begitu biarkan aku mengatakan—GAH--!!”

Aku baru mengucapkan setengah dari kalimatku saat tinjuan super kuat Kido mengenai dadaku. Aku yang tidak bisa menahan kekuatan itu hanya bisa terjatuh ke lantai toilet.

.....dari awal, kenapa kau menanyakan kalimat terkahir kalau kau tidak membiarkanku menyelesaikannya?

Aaaah.....kesadaranku mulai lenyap.

Seto, biarpun aku tidak ada lagi, jangan kalah dengan Kido, oke? Kau harus menjadi kuat dan terus hidup.

“...Huh? Kamu....” Suara seseorang muncul dari jauh. Siapakah itu? “Sudah kuduga! Kamu anak yang dulu pernah kutemui di taman! Wow~ kebetulan banget!” Kesadaranku langsung dibawa kembali dari kegelapan oleh suara gadis itu.

Bergegas berdiri biarpun kesakitan, aku melihat gadis kecil yang tersenyum kepadaku. Rambut coklat sebahu dan mata hitam kelam.....dia adalah gadis dari hari itu, hampir tidak ada perubahan sejak hari kami pertama kali bertemu.

“Sudah lama sekali! Kamu masih ingat sama aku?”

Wujudnya, suaranya, aromanya....aku tidak pernah melupakan sehari pun. Tepat setelah kami berjanji untuk bermain kembali di taman pada hari esoknya, kami malah tidak pernah bertemu kembali. Siapa tau kami akan bertemu kembali pada situasi seperti ini....

.....tapi yah, kenyataan bahwa latar tempat reuni kami adalah toilet agak....

“Ah, pe-perutmu....” Kido mengusap perut gadis periang itu dengan khawatir, mungkin ia memikirkan bagaimana dia memukul calon kakaknya tadi.

“Hm? Tidak masalah! Tidak ada sama sekali! Soalnya kan aku sudah berlatih setiap hari!” gadis itu menepuk dadanya dengan bangga ketika dia berbicara, kemudian menambahkan, “Aku tidak akan mati dengan cara normal apapun loh!”

“Tapi aku terkejut! Aku tidak menyangka aku akan tiba-tiba ditinju! Aah, kamu mempunyai Serangan Pamungkas super kuat!” gadis itu memberikan senyuman lebar kepada Kido dan lalu mengelus kepalanya.

Kido terlihat malu tapi pada waktu yang sama dia bilang, “Maaf...ini semua salah Kano,” dengan santainya dia menyalahkanku.

“Ah, tadi kamu juga bilang begitu. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya gadis itu, memerengkan kepalanya.

“Ti-tidak! Bukan apa-apa! Ada alasan yang lebih dalam mengenai ini.....” merasa sangat bersalah, aku memberinya jawaban pertama yang bisa kupikirkan.

“Alasan yang lebih dalam? Hmmm, terdengar menarik....” nyatanya kalimat yang kugunakan malah menarik perhatian gadis itu lebih jauh. Dia kembali menatapku dengan ekspresi keheranan.

Sekali lagi, aku menyadari kalau wujud, suara, dan aroma dari gadis ini sama persis dengan gadis yang ada di ingatanku.

Ngomong-ngomong......kenapa wujud gadis ini bisa bertahan diingatanku dengan sangat lama padahal kami hanya bertemu sebentar saja? Padahal aku butuh waktu yang lama untuk mengingat wujud kucing hitam.....

Melihatku yang tergagap-gagap, mencoba menjawab dengan tidak jelas, gadis itu akhirnya tersenyum dan mengatakan, “Yah~ Sudahlah~ Untuk sekarang ayo lupakan itu, mari kita berkenalan! Berkenalan! Oke?” selesai bicara, dia berbalik dan bergegas kembali ke kamar anak-anak

Melihat tindakannya, Kido menatap ke arahku sebelum menyatakan dengan kasar, “Jangan  pikir aku sudah memaafkanmu. Kau harus menjelaskan ini nanti.” Setelah itu dia berbalik untuk mengikuti gadis yang lain.

Sepertinya Kido masih memusuhiku.

Aku mengembus nafas panjang , kukira-kira kapan mereka sudah sampai ke kamar sebelum mengikuti mereka
~***~
Setelah kembali ke kamar, aku melakukan apa yang kubisa untuk menenangkan Seto. Dia memandangku dengan mata yang berlinangan air mata, mengatakan, “Saya benar-benar berpikir kalau Kano akan dibunuh.....” kenyataan kalau aku belum mati mungkin hanya berkat keberuntungan. Seandainya aku ditinju di bagian yang lebih fatal, mungkin saja aku akan benar-benar mati.

Mengikuti intruksi gadis itu, kami bertiga duduk berbaris, menghadapnya langsung.

“Kalau begitu, waktunya untuk perkenalan!” Gadis itu terlihat sangat bersemangat, seperti sudah menanti-nanti waktu ini dengan sangat lama, “Aku Ayano. Tateyama Ayano! Kalian semua harus memanggilku Onee-chan, oke?” gadis bernama Ayano membusungkan dadanya saat mengatakan ini.
Sikapnya berbeda jauh dengan sikap Ayaka-san sebelumnya; ‘Tidak perlu memanggilnya ibu jika kami tidak mau’.

Kido bergegas menjawabnya dengan senyuman kecil, “Na-namaku Kido Tsubomi. Salam kenal.” Dari sampingnya, Seto melihat percakapan itu dengan ekpresi yang sangat terkejut.

Hal itu tidak mengherankannya. Habis sih, Kido jaraaang sekali bersikap ramah seperti itu kepada kami, belum lagi dia selalu menolak memberi nama pertamanya kepada kami. Sedangkan sekarang, dia malah memberinya dengan sangat mudah. Karena itu shok Seto sangatlah wajar.

Kuhentikan komentar yang sudah di ujung lidah; “penampilan jinak dari Kido yang tidak terduga” dan hanya menatap dengan perasaan yang sedikit tidak enak.

Setelah itu, Seto juga memperkenalkan diri, “Saya Seto Kousuke.....” memang itu sangat pendek, tapi usahanya sangat kelihatan dari bagaimana dia memperkenalkan dirinya dengan baik.

Kalau aku mengingat bagaimana pertama kali kami bertemu, dia berkembang cukup pesat. Dulu, dia membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan keberanian agar bisa keluar dari tempat tidurnya, lebih lagi saat dia mencoba memperkenalkan dirinya kepadaku.

Akhirnya, giliranku tiba, “Aku Kano Shuuya. Salam kenal,” kataku.

Selama Kido dan Seto memperkenalkan diri, Ayano hanya mengeluarkan “Hmm” pelan , tapi saat sampai giliranku, dia mengeluarkan tawa sambil mengatakan, “Akhirnya sekarang aku tau namamu!”

Aku menunduk, merasa malu, dan menggumam pelan, “Ah, iya.”

“Ba~iklah, sekarang semuanya sudah memberikan namanya, waktunya untuk......”

Kami bertiga memiringkan kepala kami kebingungan dengan perkataannya. Waktunya untuk.....untuk apa? Dinilai dari nada bicaranya, sepertinya itu adalah sesuatu yang sudah dia rencanakan dari awal, tapi agak sulit mengetahui apa yang sebenarnya dia maksud hanya dari ekspresinya.

Kami hening menunggu perkataannya, tapi gadis yang terlihat gugup itu menyambung kalimatnya yang ternyata sama sekali tidak keren, “Waktunya untuk memanggilku O—onee-chan, bukan?” katanya sambil menghadap kepada kami.

Dia terus melirik kami sebentar-sebentar, “Se-sebaliknya, Onee-san juga gakpapa kalau kalian mau!”.....kurasa ‘Sebaliknya’ bukan kata yang tepat digunakan.

Tapi begitu toh. Jadi soal itu toh. Jadi sepertinya dia ingin kami—adik-adik barunya mengakuinya sebagai kakak.

Memandang yang lain, Seto mempunyai ekspresi kosong di wajahnya, tapi Kido sepertinya menimbang-nimbang masalah ini dengan hati-hati di otaknya. Setelah beberapa saat, dia memberikan suara setuju sebelum memanggil gadis di depannya, “Onee-chan”

Gadis itu terlihat sangat bahagia, dia mengulurkan tangannya untuk mengeluk kepala Kido sambil mengatakan, “Tsubomi~! Imutnya~!” setelah beberapa saat, dia mendadak memutar ke arahku dan Seto.

Matanya yang berkilauan mengejakan, “Kini giliran kalian memanggilku Onee-chan!”

Aku dan Seto refleks mundur dari perasaan menekan yang tiba-tiba datang.

“A-ada apa? Aku kakak kalian, kan? Ayolah....” katanya, membungkuk lebih dekat. Sebenarnya, dia serasa sedang mengeluarkan aura berbahaya sekarang.

“O-onee-chan!” panggil Seto, tidak bisa menahan tekanannya. Biarpun dia mengatakannya seperti ingin mengakhiri ini secepatnya, gadis itu sama sekali tidak memikirkannya dan mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Seto, “Senang bertemu denganmu~! Kousuke~!”

Seto, mengejutkannya, terlihat sangat puas.

Ini berarti tinggal aku seorang yang belum memanggilnya kakak. Gadis itu menangkap tatapanku dan mulai kembali mendekatiku.

Yah, memanggilnya seperti apa yang dia mau adalah cara yang paling bagus, tapi sejujurnya, saat kami pertama kali bertemu aku berpikir dia itu ‘seumuranku’ atau ‘setahun lebih muda’ dariku, jadi ini serasa agak aneh.

Namun, gadis itu tidak bisa membaca pikiranku. Dia mendekat sambil mengatakan, “Ayolah~ aku kakakmu~”

Cukup. Aku harus menyerah sekarang. Biarpun rasanya aneh, itu cuma gelar. Aku tidak akan kesulitan lagi kalau aku sudah mengatakannya.

"N-nee-chan," pada waktu aku mengatakannya, entah mengapa aku merasa ada sesuatu dihatiku yang diam-diam bersembunyi. Biarpun akhirnya aku memanggilnya nee-chan, pikiranku sepertinya baru benar-benar menganggapnya sebagai ‘kakak’. Tepat pada saat itulah gadis dihadapanku ini menjadi ‘kaka’ di hatiku.

Kaka berkedip, seperti terkejut mendengar perkataanku, “Nee-chan.....bisa juga begitu, huh.....” Aku bingung apa maksud dari kata-katanya, tapi setelah itu, dia mengatakan “Yah sudahlah, toh itu juga bagus! Senang bertemu denganmu, Shuuya!” pada waktu yang sama, dia mengulur tangannya untuk mengelus kepalaku.

Mungkin karena aku malu, aku segera mundur melepaskan diri, tapi kaka segera menggembungkan pipinya, mengatakan “Barusan kamu menghindar, kan~?”

Dielus olehnya berbeda saat dielus oleh Ayaka-san. Elusannya membuatku merasa agak gelisah. Aku seharusnya tidak perlu terkejut lagi, bagiku menerima elusan dari orang lain di depan yang Kido dan Seto agak memalukan sih.

“Sekali lagi!” Melihat tangan yang terulur dan wajahnya yang cemberut, entah mengapa aku tidak bisa menolaknya.

Saat dia masih ‘gadis itu’, aku pasti akan menolak permintaannya dengan tergagap-gagap, tapi setelah aku menganggapnya sebagai seorang kaka, itu tidak mungkin lagi.

Aku mencondongkan kepalaku kepadanya dengan pasrah, kemudian dia meletakannya tangannya di rambutku, mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang sambil mengatakan “A~nak baik~!”

Tubuhku membeku, tegang karena situasi yang janggal, aku bisa melihat Kido cengengan kepadaku saat menyadari kondisiku.

......berapa lama lagi ini akan bertahan?

Mengingatnya kembali, ini mungkin adalah saat aku mengalihkan kasih sayangku kepada Ibu ke kakaku. Soalnya.....sejak hari itu sampai ke ‘saat-saat terakhir’....aku tidak pernah bisa sekalipun melawan keinginannya.
~***~
Translator Note
*Seto menggunakan Keigo (mengakhiri kata dengan desu ataupun –massu), itu adalah cara tersopan untuk berbicara dalam bahasa Jepang. Karena kaori bingung bagaimana mempaskan dengan cerita(gak mungkin kaori nulis –desu setiap akhir kalimat Seto kan?) makanya kaori menggunakan saya, anda, dll. Tetapi kaori gak berpengalaman dengan cara berbicara yang sopan jadi maaf yah kalau cara bicara Seto jadi aneh~

17 komentar:

  1. arigatou kaori..

    BalasHapus
  2. Kaori-san arigatou desu~~~!!!
    Tetep lanjutin ya kaori-san :D

    BalasHapus
  3. Arigatou kaori-saaaannnnn!!! X3 Saya tunggu lanjutannyaaaa~~

    BalasHapus
  4. makasih min
    liat liat blog nya ternyata udh keluar,trimakasih banyak mau berbagi dengan kami

    BalasHapus
  5. arigatous gozaimasu gan :) di chapter ini bacanya ketawa bercampur sedih

    BalasHapus
  6. Domo arigatou nee-chan (y)

    BalasHapus
  7. yea akhirnya keluar juga
    makasih mimin

    BalasHapus
  8. trimakasih banyk min.. izin baca

    BalasHapus
  9. kaori-san aku berhasil mendapatkan novel 1-5 komplit!! *uyeah

    BalasHapus
    Balasan
    1. diaman kk bangi link nya dong Xd

      Hapus
    2. Hahaha beli di jap.co yah XD

      Hapus
  10. izin baca.Arigatou godain mas kk

    BalasHapus
  11. arigatou gozaimasu min.izin baca

    BalasHapus
  12. makacih kaori
    ditunggu volume 1 dan 2 nya juga ya :D.

    BalasHapus
  13. arigatou kaori,d tnggu klnjtan ny. :)

    BalasHapus
  14. Huwaaa keren! Lanjut ya, Kaori-nee!~~~

    BalasHapus
  15. Pfftt... Sedih tapi ngakak *loh?
    Tapi lanjutin yaa, cemangat teruss!! And arigatou~ :3 /

    BalasHapus