Sabtu, 19 April 2014

Meaning Of Flowers 01

Chapter 1 : Anyelir

Summary : Kau tau? Anyelir itu mempunyai banyak arti. Seperti anyelir merah ini yang kuberikan padamu mempunyai arti "Aku mencintaimu." (KanoKido)

Disclaimer : KagePro milikku~ KagePro milikku~ tapi bohong!


Di dalam sebuah mansion, ada seorang anak lelaki berambut pirang berjalan di lorong besar. Dia berjalan dengan seringai di mukanya. Setelah beberapa saat, dia sampai ditujuan. Berhenti tepat di depan double-door kayu mahoni mewah, dia menghela napas dan kembali berseringai, lalu dia membuka pintu itu.

"HI-ME-SA-MAAAAAA" kata anak lelaki itu. Setelah dia mengatakan itu, bukannya disambut dengan kata-kata, dia malah disambut dengan dua bantal yang dilemparkan ke kepalanya dengan full-power.

"...berisik..." kata orang yang baru saja melemparkan bantal ke anak lelaki malang yang sekarang terlentang di lantai dengan bantal menindih kepalanya.

"Adu-du-duh. Hime-sama kasar seperti biasanya yah?" anak lelaki itu lalu menyingkirkan bantal yang ada di kepalanya dan berdiri berjalan ke tempat tidur kamar tersebut. Di tempat tidur itu terbaring seorang gadis berambut hijau yang dia panggil 'Hime-sama'.

"..."

"Hayo, hayo, waktunya bangun Hime-sama~ Sudah pagi loh! P-a-g-i!" dia menggoyangkan tubuh anak perempuan itu dengan lembut, tapi gadis itu tidak kunjung mau bangun, jadi dia mulai mendekati gadis itu dan merangkak di atasnya, anak lelaki itu lalu mendekatkan wajahnya ke gadis itu dan akhirnya-

"ITAI." –perutnya di hantam membuatnya terpental jatuh dari tempat tidur. "-Ohok- -ohok- -ugghh- Seperti yang sudah diduga dari Hime-sama, kekuatan yang luar biasa." dia memegang perutnya yang kesakitan setelah di pukul.

"...itu salahmu sendiri...baka-shitsuji..." kata gadis itu dengan pelan. Anak lelaki yang kesakitan itu, si 'shitsuji' hanya tersenyum.

"Maa, maa, habis Hime-sama enggak bangun-bangun sih. Jadi kupikir Hime-sama terkena kutukan nenek sihir dan aku, si pangeran tampan, akan mencium Hime-sama dan mematahkan kutukan itu~"

"Baka..."

"T-a-p-i sekarang kan Hime-sama sudah bangun~ Se-mu-a-nya berakhir dengan bahagia."

dan diapun dihadiahi dengan sebuah tonjokkan keras diperutnya lagi.


"Hari ini sarapannya briochi yang dibuat oleh Kousuke, dengan teh rosemary yang diberikan oleh Mary."

Sekarang, sang putri dan pelayannya berada di ruang makan. Sang putri yang sudah bangun dan sekarang duduk di kursi di depan meja makan dengan pelayannya yang tersenyum sambil meletakkan makanan dan minuman untuk dia makan.

"Hn..." Sang putri hanya mengangguk kecil dan memakan makanannya. Pelayannya menunggu dengan sabar di belakang sambil memperhatikan sang tuan putri.

Tuan putri Tsubomi Kido, anak kelima dari konglomerat terkaya se-Jepang. Tsubomi adalah anak yang 'tidak sengaja' lahir dari hasil perselingkuhan sang ayah yang ke-sekian kalinya dengan pembantu di rumah. Untuk menutupi 'kesalahan' itu, ayahnya Tsubomi mengirimkannya ke mansion lama di dalam hutan untuk tinggal sendiri.

Lalu si pelayan sekaligus bodyguardnya Tsubomi, Shuuya Kano. Shuuya adalah anak resmi dari sang pembantu yang diselingkuhi ayahnya Tsubomi. Ibunya yang lelah ditinggal oleh ayahnya Shuuya berpaling kepada ayahnya Tsubomi, pada saat ayahnya mengetahui tentang perselingkuhan ibunya, mereka langsung bercerai dan setelah itu ibunya depresi dan bunuh diri. Dia lalu mengikuti Tsubomi ke mansion menemani setengah-adiknya itu pergi.

"Bagaimana? Makanannya enak?" tanya Shuuya setelah Tsubomi selesai melap mulutnya dengan serbet.

"...ya."

"Hmmm, kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita berkeliling? Bunga anyelir di taman sedang mekar bulan ini." Tsubomi hanya mengangguk dan mengikuti Shuuya ke arah taman berada.


"Indahnya~" kata Shuuya. Pemandangan yang dia lihat sekarang adalah bunga anyelir berbagai warna yang memenuhi taman mansion Kido. Bunga-bunga yang bergoyang dengan lembut dihempaskan angin dengan aroma khas bunga itu sendiri menyebar di udara, benar-benar merupakan pemandangan yang indah.

"HEEIIIIII, Shuuuya-kuuuun, Tsubomi-himeeeee." dari arah kanan terlihat seseorang dengan jumpsuit hijau melambai-lambai ke tempat Shuuya dan Tsubomi. Pada tangan yang satunya dia membawa siraman air.

"Kousuke kah. Hei Hime-sama, ingin lihat apa yang sedang Kousuke lakukan?" anggukan kecil cukup untuk menjawab pertanyaan Shuuya. Merekapun berjalan ke tempat Kousuke berada.

"Yo Kousuke, kerja bagus seperti biasanya untuk makanan pagi ini, Hime-sama menyukainya. Iyakan, Hi-me-ca-ma~"

"Umu."

"Oh, benarkah?! Syukurlah kalau Tsubomi-hime menyukainya. Aku senang~" Kousuke berkata lalu dia menghembuskan napas lega dan tersenyum. Tsubomi lalu membuka mulutnya dan berkata dengan pelan

"Bunga anyelirnya...cantik...terima kasih...telah merawatnya..."

"Ah~ Eh? Gak apa-apa kok! Mudah juga kok merawatnya. Jadi tidak apa-apa!" Kousuke tersenyum malu dan melambai-lambaikan tangannya.

Mata Shuuya langsung berubah menjadi seperti kucing dan bertanya dengan nada menggoda. "Hoo~ Benarkah? Kudengar untuk membuat bunga anyelir mekar dengan indah butuh perawatan yang intensif loh~."

"Mou, Shuuya-kun! Gak terlalu sulit kok. Soalnya Mary kadang-kadang juga membantuku..."

"Hmm, tentu saja. Kousuke kan pasti semangat merawatnya kalau Mary juga ikut membantunya~" Semburat merah muncul di wajah Kousuke.

"Shuuya-kun!"

"Hahaha, Kousuke mudah sekali di godanya~"

Ya, Kousuke Seto, tukang kebun yang merangkap sebagai koki di mansion Tsubomi. Kousuke ditemukan oleh Tsubomi hanyut di sungai. Setelah diselamatkan oleh Tsubomi, dia berjanji untuk terus melayaninya, kebetulan dia sangat pandai memasak dan suka berkebun.

Shuuya lalu memetik sekuntum anyelir merah dan menyelipkannya ke rambut Tsubomi.

"Hime-sama paling suka bunga anyelir kan? Memang menurutku bunga ini pas untukmu, apalagi artinya." mendengar itu pipi Tsubomi langsung merona merah.

"Areeee, apakah Hime-sama sedang malu? Kawa- -OHOK-" daaaan sekali lagi Shuuya Kano berhasil dihantam oleh Tsubomi yang mukanya merah sempurna.
***
Shuuya dan Tsubomi melanjutkan perjalanannya. Mereka menjelajah ke dalam hutan ingin pergi ke suatu tempat. Setelah beberapa waktu sampailah mereka ke sebuah rumah kayu yang hampir ditutupi oleh tanaman-tanaman merambat. Mereka lalu ke depan pintu dan mengetuknya.

"Mary~ Mary~ Ini Hime-sama dan Shuuya, buka dooong!" sesaat setelah Shuuya meneriakkan itu, terdengar suara yang keras dari dalam rumah "ah~ Mary jatuh lagi yah~?" pintunya pun lalu terbuka dan terlihat gadis albino yang manis keluar.

"Shu-shuuya, Tsubomi...silahkan masuk." rumah Mary itu kecil tetapi nyaman. Rak-rak terpenuhi dengan buku-buku menghiasi ruang tamunya, Shuuya dan Tsubomi duduk di meja sambil menunggu Mary membuatkan teh untuk mereka.

Mary Kozakura adalah gadis yang sudah lama tinggal di hutan ini. Pada zaman dulu neneknya kabur ke hutan ini setelah orang-orang mengusirnya karena mata merahnya yang dipercaya membawa kesialan pada masa itu, tetapi pada akhirnya dia menetap disini dan mempunyai anak. Sejak saat itu keturunannya tinggal di rumah ini.

"Mary...untuk rosemary yang kamu berikan ke Kousuke...terima kasih." Tsubomi berkata sambil meminum teh herbal seduhan Mary.

"Ah, eh, umm, sama-sama, aku senang bisa membantu Kousuke dan Tsubomi." Mary tersenyum mendengar terima kasih dari Tsubomi.

"Oi, oi, Kousuke dan Hime-sama? Bagaimana denganku? Kau tidak senang membantuku?" tanya Shuuya dengan nada bercanda tetapi perkataannya dijawab Mary dengan blak-blakan dan tanpa perasaan.

"Oh? Kalau itu Shuuya aku tidak peduli." Shuuya langsung membatu mendengar kata-kata kejam Mary. 'Jangan bilang dia masih marah dengan kejadian itu?' batin Shuuya berkata.

"...Aku juga ingin mengembalikan novel yang kupinjam." Tsubomi lalu membuka tas kecil yang dia bawa dan mengeluarkan sebuah buku tebal, kovernya bertuliskan 'Shinigami Record'. Dia lalu meberikannya kepada Mary.

"Waaah, Tsubomi sudah selesai membacanya yah? Jadi bagaimana menurutmu?"
"Ceritanya...menarik. Jarang-jarang ada yang membuat cerita seperti itu."

"Iyakan, iyakan?! Novel ini dikarang oleh nenekku, kata ibuku dia menulis kisah cintanya dengan kakek disitu!" Mary mengatakan itu dengan mata yang berbinar-binar, rambutnya bahkan terlihat seperti bergerak-gerak. Tsubomi mengangkat alisnya sedikit dan bertanya.

"...nenekmu medusa?"

"Tentu saja bukan! Matanya hanya merah saja tapi dia manusia biasa. Nenekku
mengubah ceritanya agar lebih menarik, tetapi alur ceritanya hampir mirip." Mary lalu terdiam sebentar seperti memikirkan sesuatu dan melihat ke novel itu, dia lalu memeluk buku itu ke dadanya. "Suatu hari nanti aku ingin semua orang bisa membaca semua buku yang nenek dan ibuku buat ini. Aku ingin tau apa pendapat mereka, dan mungkin suatu hari nanti aku akan membuat bukuku sendiri."

Shuuya yang dari tadi membatu karena perkataan Mary akhirnya berbicara "Mary...tenang saja, suatu saat nanti pasti kamu bisa mempublikasikan itu ke dunia luar! Aku dan hime-sama akan membantumu, iyakan hime?"

Tsubomi mengangguk kecil dan berkata "Tentu."

"Shuuya...Tsubomi...terima kasih! Kalian adalah teman yang terbaik!" Mary lalu memeluk Tsubomi dan Shuuya dengan erat, mereka bertiga pun tersenyum bersama.


Setelah pergi ke rumah Mary mereka berjalan-jalan lagi di sekeliling hutan. Mereka melewati pepohonan dan hewan-hewan yang ada di hutan sampai pada akhirnya mereka sampai di lembah hijau yang luas. Angin sepoi-sepoi menghembus membawa aroma rumput yang khas. Shuuya dan Tsubomi lalu berbaring di rerumputan yang hijau dan melihat ke langit biru yang dihiaskan dengan awan. Keheningan yang nyaman datang kepada mereka berdua. Setelah beberapa lama, Tsubomi pun memecahkan keheningan itu.

"Dunia luar...kah. Bisakah...tidak, bolehkah aku keluar dari tempat ini?"
"Hime-sama...suatu saat kita akan keluar dari sini kok, tenang saja."

"Tapi...penyebab aku ada disini...kan kau sudah tau kenapa, Shuuya..."

"Biarpun begitu, suatu saat nanti aku pasti akan mengeluarkanmu dari sini. Kita juga akan membawa Kousuke, dan juga Mary. Setelah itu kita akan mempublikasikan buku-buku punya Mary. Dan lalu, dan lalu...kita...akan hidup bahagia bersama." Shuuya lalu mendekatkan tangannya ke Tsubomi dan akhirnya menggemgam tangan mungil yang mulus dan lembut itu.

"Shuuya...Kenapa? Kenapa kau selalu baik kepadaku? Kenapa kau selalu bersamaku? Kenapa kau tidak membenciku? Padahal...karena ayahku ibumu..." Tsubomi mengeratkan genggamannya kepada Shuuya, suaranya agak serak pada akhir kalimatnya.

"Kenapa? Benar juga katamu...kenapa aku melakukan semua ini? Padahal penyebab keluargaku hancur adalah karena ayahmu."

"Shuuya..."

"Tapi aku tidak perduli dengan semua itu. Malah aku bersyukur."

"...he?

"Karena jika itu tidak terjadi maka Tsubomi tidak akan lahir." Tsubomi hanya diam menunggu Shuuya melanjutkan perkataannya, biasanya saat Shuuya memanggilnya dengan namanya dia berarti sedang serius.

"Bagiku, Tsubomi adalah hal terindah yang pernah datang kediriku. Waktu-waktu yang kulewati bersama Tsubomi adalah harta paling berharga. Biarpun aku akan lebih senang jika Tsubomi bukan setengah-adikku sih~" pada kalimat terakhir, nada bicara Shuuya berganti menjadi nada menggoda."Karena aku kan suka Tsubomi~"

'doki' 'doki' jantung Tsubomi langsung berdebar cepat mendengar itu. Mukanya langsung memerah semerah tomat. "Areeee, Tsubomi malu yah? Kawaii~" sebuah tonjokkan mengarah ke arah Shuuya, tapi dia menangkapnya dan lalu Shuuya dengan cepat merangkak di atas badan Tsubomi. Tsubomi pun melihat wajah Shuuya yang serius dekat dengan wajahnya. Tangan Shuuya lalu mengusap-ngusap pipi Tsubomi dengan lembut.

"Tsubomi...aku, Shuuya Kano, benar-benar menyukaimu. Sejak kita kecil, sejak aku melihatmu pertama kalinya, aku langsung jatuh cinta kepadamu. Aku tidak peduli kau itu mau anak haram ataupun setengah-adikku, aku benar-benar mencintaimu." Tsubomi tidak bisa berkata apa-apa. Matanya terbuka lebar terkejut. Semburat merah kembali menghias mukanya lalu dia mengambil anyelir merah yang ada di rambutnya dan memberikannya kepada Shuuya.

"Tsubomi?"

"...bunga anyelir itu setiap warna memiliki arti...dan arti untuk bunga anyelir merah...kau sudah tau kan...?" Tsubomi lalu memalingkan wajahnya yang masih merah dari Shuuya. Shuuya setelah beberapa lama memproses informasi baru yang dia dapat, akhirnya dapat mengeluarkan kata-kata.

"Itu artinya...Tsubomi juga...?" dia bertanya untuk memastikan apakah yang dia pikir itu benar atau tidak.

"Menurutmu?" senyuman lebar mekar dari wajah Shuuya, dia lalu memeluk Tsubomi kesenangan. "He-hei, Shuuya!"

"hahaha, syukurlah. Aku sudah membayangkan Tsubomi akan menolakku. Aku bersyukur Tsubomi juga menyukaiku!" Shuuya tidak bisa menghentikan tawa kebahagiaannya. Dia sangat senang sampai-sampai serasa akan ke surga.

"Dasar...baka-Shuuya."

"Yah, aku memang bodoh...tapi aku si bodoh milikmu." Shuuya menutup matanya menyiapkan diri untuk di pukul Tsubomi. Tetapi pukulan itu tidak kunjung datang, yang datang malah sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirnya. Dia terkejut dan langsung membuka matanya dan yang dia lihat adalah Tsubomi...yang menciumnya. Tsubomi lalu melepas ciuman itu dan menunduk ke bawah. Semburat merah langsung menghiasi pipi Shuuya. "Tsu...bomi?"

Tsubomi yang sangat malu sampai serasa ingin mati tidak menatap Shuuya. Dia hanya melihat ke bawah dan mencoba menghitung rerumputan. Sebuah tangan yang kasar, karena melakukan berbagai pekerjaan, namun hangat menempel di pipinya.

"Tsubomi...bolehkah kita melakukannya...lagi?" tanya Shuuya dengan nada yang lembut. Membuat hati Tsubomi luluh.

"Harusnya kau tidak perlu bertanya lagi, bodoh."

"Hehehe, iya yah, harusnya aku tidak usah bertanya lagi." Shuuya pun mendekatkan mukanya kepada Tsubomi. Ciuman itu, biarpun hanya beberapa detik, bagi pasangan putri-pelayan itu serasa seperti bertahun-tahun. Setelah mereka lepas beberapa saat untuk menarik napas, mereka kembali mengahantupkan bibir mereka. Hal itu terus berulang sampai akhirnya matahari terbenam.
***
"Haaaaah, sepertinya hari sudah beranjak malam yah, hime-sama?"

Setelah kejadian di lembah itu, mereka kembali berjalan ke arah mansion. Biarpun sudah agak gelap, Shuuya dengan mudah berjalan tanpa terhantup dengan apapun.

"Memangnya kau pikir itu salah siapa? Karena kau kita jadi terlambat pulang."

"Ah, tapi kan itu juga gara-gara hime-sama. Habis sih sepertinya hime-sama belum puas dengan sekali ciuman itu dan pada akhirnya kita berdua terus berciuman berkali-kali kan?"

Semburat merah menghias wajah Tsubomi, biarpun dia ingin menghantam Shuuya, dia menghentikan itu. "kau...jangan mengatakan hal seperti itu dengan biasa saja!"
"Hahaha, hime-sama memang mudah untuk digoda~"

Sambil mereka terus berdebat dijalan, Kousuke yang berdiri di depan pintu mansion bersama Mary melambai-lambai ke arah mereka.

"Tsubomi-himeeee, Shuuya-kuuuun. Kalian tidak pulang-pulang membuatku khawatir saja. Aku hampir saja ingin mencari kalian dengan bantuan Mary." Shuuya lalu menepuk kedua tangannya seperti tanda minta maaf.

"Maaf, maaf. Kami kelupaan waktu." Kousuke hanya menghela napas dan dengan pasrah berkata.

"Yah , sudahlah. Yang penting kalian berdua tidak kenapa-napa."
"hahaha, iyayah."

Mereka semua lalu masuk ke dalam mansion. Kousuke memasakkan makan malam dan Mary membantunya. Shuuya dan Tsubomi menyiapkan meja makan. Setelah makan malam bersama yang menyenangkan Mary pulang ke rumahnya ditemani dengan Kousuke. Tinggal Shuuya dan Tsubomi berdua, setelah itu mereka berdua pergi ke taman. Bunga-bunga anyelir yang disinari dengan bulan membuatnya menjadi malam yang indah.

"Hei Tsubomi. Soal perkataanku yang tentang aku ingin mengeluarkanmu tadi itu, aku benar-benar berniat untuk itu. Aku pastinya suatu hari nanti akan melakukannya, aku janji." Shuuya menggemgam tangan Tsubomi denga erat dan dengan satunya membuat janji kelingking dengan Tsubomi.

"Aku akan menunggu waktu itu, tapi untuk sekarang...aku hanya ingin menikmati waktuku bersama denganmu."

"Aku juga." 

Flower Meaning
Anyelir(dalam bahasa inggris itu Carnation) adalah birthflower buat bulan January, saya sengaja milih bunga ini karena Kido lahir di bulan January. Arti bunga anyelir adalah cinta, kebanggan, kecantikan, kesucian, perbedaan, pesona, dan loyal. Bunga yang pas untuk Kido menurut saya. Sedangkan untuk pesan tersembunyi tiap warna bunga anyelir adalah:

Anyelir pink artinya kasih sayang.

Anyelir putih artinya cinta suci.

Anyelir belang artinya cinta bertepuk sebelah tangan, dan

Anyelir merah artinya Aku Mencintaimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar