Jumat, 18 April 2014

Yobanashi Deceive I

Cerita Malam Menipu I
Kredit kepada kur-ro-ha untuk English Translation
Bagian terakhir diambil dari sini 

“....seperti yang sudah kuduga, ini masih sangat menyakitkan.”
Aku hanya bisa terhentak karena kesakitannya.

Aku menggunakan tanganku untuk meraba sumber dari kesakitanku. Pipi kananku menyebarkan rasa sakit ini seperti panas api yang membara, kesakitan menyebar dari ujung jariku yang dingin  sampai ke otakku yang terdalam.

Sekitar jam 11 tadi, aku telah dipukuli.

Biarpun sudah beberapa jam berlalu sejak aku dipukuli, rasa sakit ini sepertinya tidak akan hilang untuk beberapa waktu. Bahkan, pipi kananku serasa makin lama makin panas dan sepertinya mulai menjadi bengkak.

“Beneran deh, ini menyusahkan banget.”

Aku mengingat kalau di kulkas ada sisa es batu waktu ibu membawa kue dulu.

Paling tidak aku bisa menghentikan pembengkakannya dengan meletakkan es batu di pipiku.

Akan sangat menyulitkan kalau sampai tertinggal bekas luka.

Benar-benar menyusahkan saat tetangga terus bertanya, “Bagaimana kamu bisa terluka?” dan “Siapa yang memukulmu?”

Seandainya ada orang aneh yang datang ke rumah kami lagi, aku tak sanggup menerimanya.

Beneran deh, kenapa laki-laki itu terus menggangguku? Padahal aku tidak memerlukan bantuan siapa pun.

Sekarang, semua luka kecil ini bukanlah masalah yang sebenarnya.

Ya, kesakitan seperti ini tidak bisa disamakan dengan kekhawatiranku.

Untuk meningkatkan semangatku, aku perlahan menghela napas dan mendorong punggungku ke bangku taman yang kududuki dari tadi.


Aku berjalan tanpa tujuan pada siang hari yang panasnya sudah seperti sauna gratis tidak dipungut biaya. Terik panas matahari mulai melemah saat aku sampai di taman.

Langit luas yang masih biru tidak memberikan tanda-tanda akan menjadi gelap untuk sementara waktu. Tetapi, cahaya matahari mulai dihalangi oleh awan-awan, membuat langit terlihat lebih suram daipada sebelumnya.

Beberapa jam yang lalu, aku melihat anak-anak bermain di perosotan dan kotak pasir.

Namun sekarang tidak ada tanda-tanda orang lain selain gadis kecil yang berlatih putaran terbalik pada batang horizontal dengan keras.

Ini aneh.

Tanpa pikir panjang, kutatap jam tenaga matahari yang berdiri di tengah taman. Seperti sudah diatur, pengumuman-pengumuman yang biasanya menggema mulai berhenti saat jarum jam pendek menunjuk angka 5.

Sepertinya anak-anak yang telah pergi mengikuti semacam ‘peraturan’ untuk pulang ke rumah saat hari mulai gelap. Peraturan yang tidak diketahui siapa pembuatnya.

Orang dewasa selalu waspada agar anak-anak mereka tidak melanggar peraturan ini. Di dalam pikiran mereka, menggandeng tangan anak mereka agar pulang ke rumah tepat waktunya adalah keputusan yang paling baik.

Pada akhirnya, dunia dimana kita hidup ini dibentuk dari fondasi yang orang dewasa sebut ‘peraturan’.

Kau sama saja menggali lubang kuburmu sendiri kalau kau terang-terangan menentang peraturan-peraturan ini.

Anak-anak polos yang bahkan tidak tau bagaimana caranya bertahan hidup sendiri hanya bisa bergantung pada peraturan yang telah dibuat oleh dunia ini. Bahkan jika orang dewasa meringis dan menangis, dunia ini tidak akan merubah peraturannya sama sekali.

Tentu saja, orang-orang yang mengabaikan anak-anak sepertiku dan menikmati dunia ini apa adanya tidak memiliki keinginan untuk mengubah dunia ini.

Tidak, kurasa aku tidak boleh mengatakan itu.

Kesakitan yang kemarin berada di pipi kiriku sekarang berada di pipi kananku.

Perbedaan kecil seperti ini mungkin juga bisa disebut sebagai ‘perubahan’. Hanya saja, hal tidak penting seperti ini tidak akan berdampak apapun kepada siapapun.

Aku sendiri merasa aku adalah anak yang aneh. Karena kupikir aku mengerti apa yang tidak dimengerti oleh anak lain.

Mungkin ini karena aku selalu berada di rumah dan tidak mempunyai teman, aku mengalami hal-hal yang lebih buruk daripada anak lain.

Tetapi, aku hanyalah selangkah lebih berpengalaman daripada anak lain jadi ini bukanlah hal yang terlalu janggal.

Apapun yang terjadi, hari ini pun aku mengikuti ‘peraturan’ yang Ibuku buat.

Menghabiskan semua waktuku di taman dan bermain-main sama seperti anak lainnya. Itu juga termasuk dalam peraturan yang diatur.

Pada pagi hari, setelah aku menyiapkan sarapan dan menghangatkan air di bak mandi untuk Ibuku yang baru pulang kerja aku akan selalu pergi ke taman.

Mulai dari Ibu pulang kerja sampai dia pergi kembali, aku akan menghabiskan waktuku di taman. Jika aku disuruh untuk membeli sesuatu, akan kubeli. Pulang ke rumah, membersihkan kamarku, dan tidur.

Mengikuti peraturan-peraturan ini adalah tugasku, ini adalah semuanya bagiku.

Biarpun duniaku sangatlah simpel, entah mengapa aku tidak pernah bisa melakukannya dengan benar. Aku selalu saja membuat Ibuku marah.

Kemarin aku lupa membeli tisu toilet dan hari ini aku memecahkan gelas, karena itu Ibu sangat marah kepadaku.

Setiap kali Ibu marah, dia akan memukuliku. Biarpun begitu, tangan yang digunakan Ibu untuk memukulku pastilah juga merasakan kesakitan yang sama denganku.

Selesai dia memukulku, Ibu pasti meminta maaf sambil menangis. Aku tidak tau harus melakukan apa setiap kali itu terjadi.

Setiap kali aku mencoba melakukan berbagai hal lebih baik, aku malah membuat lebih banyak kesalahan.

Setiap kali aku mencoba melakukan sesuatu yang membuat Ibu senang, aku malah membuatnya marah.

Aneh sekali yah?

Ngomong-ngomong, ada pada suatu ketika saat remot TV tidak bekerja lagi. Ibu mengomel dan mengatakan bahwa itu adalah ‘sampah’ dan membuangnya ke dalam tempat sampah.

Itulah pertama kalinya aku menyadari bahwa orang yang tidak menuruti aturan, sesuatu yang tidak berguna, adalah ‘sampah’.

Dari apa yang bisa kukumpulkan, ‘sampah’ dan ‘aku’ sangatlah mirip.

Aku selalu membuat ibu yang telah lelah dari bekerja marah tanpa sebab.  Aku hanya membuatnya sakit. Jadi, apa bedanya ‘sampah’ dengan diriku?

Aku pun juga pasti bisa digantikan jika aku tidak berguna lagi, sama seperti ‘sampah-sampah’ lainnya.

Aku tidak mengerti.

Kenapa setiap hari aku hanya bisa membuat Ibu sedih?

Aku tidak pernah melakukan apapun selain menyakiti Ibu. Jadi, kenapakah ‘aku’ lahir?

Pada akhirnya, untukku yang seperti ini, kenapa Ibu sampai-sampai.....

Setiap kali aku memikirkan hal seperti ini, dadaku terasa sedikit sakit.

Aku tidak pernah lagi menangis karena kesakitan, tapi sekarang tanpa kuminta airmata perlahan mengalir dari wajahku.

Tidak. Aku tidak boleh menangis. Aku harus memikirkan hal yang lain.

Seandainya seseorang melihatku seperti ini aku tidak tau harus mengatakan apa untuk mereka.

Seandainya seseorang mencoba menyusahkan Ibu lagi sama seperti sebelumnya, membuat kami tidak bisa bersama lagi.....itu akan sangat buruk. Aku tidak akan bisa menerimanya. Dunia tanpa Ibu adalah sesuatu yang tidak pernah ingin kubayangkan.

Tinggal satu jam lagi.

Tinggal satu jam lagi sebelum Ibu bangun dan pergi ke pekerjaannya, jadi kuputuskan akan lebih baik untuk diam di tempat ini lebih lama lagi.

Setelah itu, aku berencana untuk membeli gelas baru untuk menggantikan gelas yang kupecahkan, pulang ke rumah, dan lalu diam disitu.

Apapun yang terjadi, asalkan aku tetap mematuhi ‘peraturan’ ini, hari ini Ibu tidak akan tersakiti.

Artinya, besok pasti.....pasti apa?

Bersamaan pertanyaan ini muncul di benakku, aku mendengar suara pelan “pak”.

Aku berbalik dan kebingungan saat aku memandang gadis, yang tadinya bermain di batang horizontal, sekarang telah terbaring dengan punggungnya ke tanah.

Aku mengamati gadis itu dengan terkejut lagi dan lagi. Biarpun dia telah jatuh, dia tidak berusaha untuk bangun dan malah melebarkan tangannya, menatap langit di atasnya.

Apa yang dia lakukan sampai-sampai jadi seperti itu? Bahkan anak seaneh diriku tidak cukup bodoh untuk memikirkan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya itu.

“Hei, kau!”

Perkataan yang kukeluarkan tanpa pikir panjang tidak mendapat jawaban, yang bisa kudengar hanyalah suaraku sendiri yang menggema di taman ini.

Ditemui oleh keheningan tidak menyenangkan ini membuatku merinding.

“I-ini buruk....!”

Aku menginjakkan kakiku ke tanah dengan seluruh kekuatanku bersamaan aku berdiri.

Tiba-tiba bertemu dengan keadaan ‘gawat’ seperti ini, seperti yang telah kuduga otakku yang tidak bisa diandalkan berhenti bekerja.

‘Keadaan Terburuk’ yang sering kudengar di TV dan radio datang ke otakku sekeras ombak di pantai.

Seandainya apa yang berada di depanku benar-benar sama seperti yang sering kulihat di TV dimana tragedi terjadi karena alasan yang tidak terduga, maka---

Maka, pada waktu ini, pada detik ini, apakah masalah yang sebenarnya terjadi?

 Batang horizontal dimana gadis itu bermain tidaklah terlalu tinggi, tapi masalahnya adalah bagaimana dia jatuh.

Di dunia ini, ada orang yang bisa terluka parah hanya karena jatuh dari kursi.

Biarpun batang itu hanyalah mainan untuk melatih diri, seandainya itu menghantam bagian tubuh yang lemah, tidak aneh jika luka parah terjadi.

“Kenapa sih harus aku....”

Aku memangdang segala arah, mencari orang dewasa yang bisa menolong, tapi tidak ada yang kudapat.

Mendapatkan tugas sebesar ini, aku mulai gelisah dan hatiku serasa akan meledak.

Namun aku tidak punya waktu luang lagi, aku harus berhenti ketakutan.

Aku terus menatap tanah dimana gadis itu terbaring, di tempat bekas galian anak-anak tadi siang, masih tidak bergerak.

Kuharap dia tidak mendapatkan luka serius. Bersamaan aku mendoakan itu, aku melangkah dengan seluruh kekuatan di tubuhku. Dan pada waktu itu.....

Gadis yang awalnya tidak bergerak sama sekali tiba-tiba bangun. Rambut coklat gelapnya yang sebahu dan matanya memiliki warna yang sama. Gadis itu berbalik ke arahku dengan pandangan kosong.

Ah, syukurlah. Sepertinya dia tidak mendapat luka parah atau semacamnya. Tidak ada darah dan corak kulitnya tidak pucat, baguslah.

Dari apa yang bisa kulihat, gadis ini memiliki wajah yang cantik. Pada suatu hari, pastinya seorang laki-laki akan jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya dan mungkin mereka akan membuat keluarga bahagia bersama. Ah, untunglah dia tidak memiliki luka yang berbekas.

Bersamaan dengan suara ‘krek’, pergelangan kaki kananku mulai merasa kesetrum.

Tentu saja, karena aku hidup selama tahun yang masih bisa kuhitung dengan jari, aku tidak pernah kesetrum apapun sebelumnya. Namun, ada cara lain untuk mendeskripsikan kesakitan ini, dalam beberapa detik, kesakitan ini langsung mengalir dari kakiku menuju kepalaku.

Ah, benar juga.

Sekitar beberapa detik yang lalu, aku telah menggunakan seluruh kekuatan di tubuhku untuk melangkah.

Aku terlalu khawatir dengan gadis itu dan malah melangkah lebih jauh daripada yang seharusnya.

Bagian atas badanku yang lebih cepat pergi tidak pas dengan kedua kakiku yang masih di belakang.

Tidak sulit menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ah—kau, gadis di depanku, kumohon jangan lihat aku.

“GAHHHHHHHHH!”

Seperti telah melatih gerakan ini sebelumnya, aku berteriak dengan suara yang memalukan dan menyedihkan lalu mulai jatuh ke tanah dengan posisi yang aneh.

Seandainya ini sejenis komedi pendek di acara TV, pasti orang-orang yang duduk di balik layar TV sudah tertawa terbahak-bahak melihatku.

Aku akan berterima kasih kepada orang-orang yang cukup sopan untuk berpura-pura tertawa.

Hal yang paling lucu adalah di tengah taman yang sunyi ini aku merangkak di tanah  dan tidak memiliki kekuatan untuk berdiri.

Tubuh dan pergelangan kakiku memang kesakitan, tapi itu bukanlah sesuatu yang penting disebutkan.

Masalah yang sebenarnya terletak pada sebuah fakta yaitu manusia, seperti aku, memiliki perasaan yang dapat menyingkirkan semua rasa sakit yang mereka rasakan, perasaan bernama ‘malu’.

Coba pikirkan. Seseorang tiba-tiba bergegas ke arahmu, kemudian dia dengan anggun jatuh ke tanah sambil berteriak dengan suara yang sangan amat aneh---apa yang akan kau pikirkan tentang orang itu?

....tidak tidak tidak, berakhir sudah. Ini mengerikan sekali.

Ah, seandainya aku tidak terburu-buru mencoba melakukan hal yang tidak diperlukan.

Apa yang harus kulakukan? Pada situasi seperti ini, lebih baik aku berdiri dan kabur dari sini.

Tidak, aku tidak bisa. Aku melukai pergelangan kakiku, tidak mungkin aku bisa kabur dengan cepat.

Pastinya aku akan berlari dengan sangat menyedihkan sampai-sampai orang yang melihatnya akan merinding. Aku lebih memilih tidak memberi kenangan dan kesan buruk kepada gadis kecil ini.

Karena aku sudah terjerumus dalam situasi ini, aku merasa aku cukup berbaring tanpa bergerak sama sekali dan membiarkan waktu berlalu.

Sejujurnya, aku sama sekali tidak ingin dikenal dalam benak gadis itu sebagai ‘bocah depresi misterius yang kepeleset’, tapi gara-gara hal ini sudah terjadi, aku cuma bisa pasrah.

Ah, aku harus melakukan ini, waktu, kumohon berlalulah lebih cepat.

“Hei, kamu baik-baik saja?”

Tidak mungkin aku baik-baik saja.

Seluruh badanku sakit dan aku sangat malu, bagaimana bisa aku......

 “Eh?!”

Aku mengangkat kepalaku. Gadis di depanku mengulurkan tangannya dan mencoba menarikku kembali berdiri.

Dari ekspresinya dan kedua mata besarnya yang tidak lagi kosong, sepertinya dia tidak berencana menelpon polisi untukku.

“Ti-tidak! Aku benar-benar baik-baik saja! Aku hanya kepeleset dan jatuh, itu saja....a-ahaha....”

Kuangkat badanku dengan panik dan bergegas memaksakan senyuman.

Untunglah gadis ini tidak membenciku. Tetapi, kenyataan bahwa aku telah jatuh tepat di depannya tetap tidak berubah.

Biarpun gadis ini telah mengulurkan tangannya untukku, rasa maluku membuatku sulit menerima bantuannya.

Melihat ekspresiku yang dipaksakan, gadis itu menatapku dengan kebingungan.

“Tapi, penglihatku kamu sepertinya jatuh dengan sangat keras. Kelihatan sakit banget bagiku.”

Pertanyaan polos gadis itu seperti minyak yang memanaskan wajahku dan membuatnya membara.

Ah, kau benar. Seperti apa katamu tadi, apa yang terjadi sebelumnya mungkin adalah salah satu dari tiga jatuh terbesar yang pernah kulakukan seumur hidupku.

“Su-suer, aku baik-baik saja! Aku selalu kepeleset seperti ini. Aku sudah terbiasa, beneran.”

Wajah gadis itu tambah gelap mendengar kebohongan besarku.

“Selalu? Hmm....sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dariku...”

“A-ahaha…”

Oh tidak, melanjutkan pembicaraan ini sama saja seperti menggali lubang kuburku sendiri.

Ngomong-ngomong, anak ini keras kepala sekali.

Kenapa juga dia terbaring hening di tanah kalau dia se-energetik ini?

Melihat bagaimana cerah dan semangatnya gadis ini, aku tidak bisa mengatakan kepadanya, “Sebenarnya, aku jatuh karena aku mencoba menyelamatkanmu.”

Aku merasakan firasat buruk. Berbagai hal yang telah terjadi tidak sesuai keinginanku, seandainya aku melanjutkan pembicaraan ini, pastinya situasi ini akan bertambah buruk kecuali aku mengakhirinya.

Seandainya sebuah rumor tentang ‘seorang bocah yang tinggal di sekitar sini ingin membuat teknik meluncurnya sendiri dan melukai dirinya sendiri’ tersebar, itu akan jadi buruk.

Hal ini sudah berlalu cukup lama. Solusi terbaik untuk masalah ini adalah untuk memberikan bualan besar agar aku bisa kabur dari sini secepat mungkin, bahkan jika itu berarti gadis ini akan berpikir aku orang yang menjijikkan.

Ini mungkin akan membekas di benakku, tapi tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.

“...baiklah. Aku mengerti, akan kuberitakan kepadamu yang sebenarnya.” Kataku bersamaan menghembuskan napas. Setelah mendengar ini gadis itu menatapku.

“Yang se-sebenarnya?”

“Iya. Sebenarnya....”

Biarpun rasa maluku hampir mengalahkanku, aku memastikan hal ini tidak terlihat di wajahku, dan kubuat mulutku menjadi senyuman agar bisa memaksakan baris selanjutnya dari naskah kebohonganku keluar.

“Apa yang baru saja kau lihat sebenarnya adalah diriku yang sedang berlatih gerakan rahasia. Kau tau, seperti gerakan......yang bisa mengalahkan semua orang jahat dalam satu serangan.”

Hening.

Hening sekali, sampai-sampai aku jadi merasa tidak nyaman.

Taman ini tiba-tiba tidak bersuara sama sekali, bagaikan waktu telah terhenti.

Sudah waktunya, sudah waktunya untuk kabur. Lebih baik aku menarik napas dalam-dalam dan kabur secepat mungkin sebelum wajahku yang memerah berubah menjadi api membara.

Kemudian, aku akan pulang ke rumah dan melupakan semua hal yang terjadi hari ini. Aku akan pulang, makan malam, tidur, mencari kasih sayang, dan hidup dengan bahagia mulai dari sekarang.

Disaat aku berpikir bagaimana caranya untuk kabur, reaksi gadis itu malah membuatku terkejut.

“Ja-jadi apa yang kupikirkan itu benar?!” bersamaan gadis itu mengatakan ini, rasa penasarannya tertulis dengan jelas pada seluruh wajahnya.

“…eh?”

“A-aku berpikir kalau kamu berlatih gerakan rahasia! Ka-kamu hebat! Begitu yah, jadi begitu.....! Karena itu adalah gerakan rahasia, kamu tidak boleh mengatakannya kepada orang lain, kan?!”

Dengan panik aku bergegas menjawabnya dengan ambigu, “Yah, uh, iya?!......kurasa.” kepada gadis yang sekarang lima kali lebih penasaran dari sebelumnya.
Apa sih yang membuatnya tertarik banget?

Padahal kupikir aku sudah pasti ketahuan, ternyata dia malah percaya pada kebohongan konyolku ini.

Mengabaikan diriku yang perlahan mundur, gadis itu menyandar maju mendekatiku.  Sembunyi-sembunyi, dia periksa sekitarnya dan lanjut mengatakan hal yang aneh.

“Be-beritau aku rahasiamu. Sebenarnya....aku juga melakukannya.”

“Ah, maaf. Apa maksudmu?”

Bersamaan aku berbicara aku mundur lebih jauh untuk menjaga jarak yang cukup di antara aku dan dia. Gadis itu kembali memeriksa disekitarnya dan memelankan suaranya lebih kecil lagi.

“Kamu tau, berlatih. Berlatih gerakan rahasia.”

Gadis itu berekspresi serius, tapi ekspresi itu tidak berarti karena apapun yang dia katakan tadi tidak bisa dianggap serius sama sekali.

“Huh? Berlatih?...maksudmu, berputar di batang horizontal itu?”

Hanya itu saja yang muncul di benakku.

Namun, sepertinya aku tepat sasaran. Wajah gadis itu bersinar bersamaan dia mengatakan, “Ja-jadi kamu tau toh!”

Apa yang dia maksud....? Aku malah terkejut kalau ada orang yang tidak tau putaran terbalik di batang horizontal itu apa.

Bagaimana bisa itu berhubungan dengan ‘gerakan rahasia’ sih?

Tidak, tunggu. Bagaimana kalau anak ini....

“Ma-maksudmu kau berpikir kalau berputar di batang horizontal adalah suatu serangan rahasia...?”

“Yup, ayahku yang memberitauku. Katanya, ‘Kalau kau bisa menguasai putaran terbalik pada batang horizontal, semua musuhmu akan terbakar jadi debu.’ ”

Biarpun dia mengatakan sesuatu yang sangat janggal, mata gadis ini tidak memiliki keraguan di dalamnya sedikit pun.

“Tadi, sedikit lagi aku bisa. Tetapi lain kali aku pasti bisa melakukannya dengan sempurna, aku sudah berlatih dengan imajinasiku.”

“Ah, begitu yah....”

Aaaaah, jadi itu toh yang terjadi.

Bertingkah seperti telah terluka merupakan bagian dari latihan imajinasi gadis ini, huh? Begitu yah, begitu toh.

“....boleh aku pulang sekarang?”

Ekspresiku mungkin tidak bisa disembunyikan dengan senyuman lagi. Sekarang wajahku sudah putih seputih kertas.

Yah, itu tidak terlalu mengejutkan.

Seberapa banyak energi yang kugunakan selama diriku menghadapi gadis ini?

Aku merasa seperti telah menghabiskan energiku untuk sebulan.

“Eh?! Kamu akan pulang?! Biarpun masih ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu.....”

Kumohon, ampuni aku.

Berkebalikan dengan semangat gadis ini, tubuhku tidak bisa lagi memperbincangkan seragan rahasia.

“Um, iya. Sudah waktunya aku pulang.’

Aku berbicara sambil tersenyum bersamaan aku berusaha bertingkah seperti anak baik sebagus mungkin.

Biarpun gadis ini menyuarakan “mm...” dengan malas, paling tidak sepertinya dia tidak akan menggangguku lagi.

Aku melihat ke jam, sudah lewat 05.30 sore.

Biarpun ini lebih awal daripada jam biasanya aku pulang, hari ini aku mempunyai misi untuk membeli gelas.

Seandainya aku menambahkan waktu yang kubutuhkan untuk melakukan itu, sekaranglah waktunya untuk aku pergi.

Menggunakan kakiku yang tidak keseleo untuk berdiri, aku berhati-hati menggerakkan kakiku yang terluka.

Seperti yang sudah kuduga, memang sakit, tapi sepertinya aku masih bisa jalan.

Jika sampai-sampai aku tidak bisa berdiri, aku bahkan tidak ingin membayangkan apa yang akan dikatakan oleh gadis itu.

“Jadi, umm, dadah, aku pergi sekarang.”

Disaat aku mengatakan ini, aku mencoba pergi dari sini secepat mungkin, tapi dia masih terus ber “mm...” ria, ketidakpuasan tertulis jelas di wajahnya.

Kalau dilihat baik-baik, mata yang menatapku terlihat berkaca-kaca.

Ya Tuhan, aku harus pergi dari tempat ini sebelum situasinya memburuk.

Aku yang merasa agak bersalah memaksakan diriku untuk tertawa kecil dan bergegas pergi menuju pintu keluar taman.

“Hei!”

Baru saja aku mulai bergerak, dari belakangku suara gadis itu kembali berbunyi.

Apa lagi sekarang?

Aku membalikkan kepalaku sedikit agar bisa melihat wajahnya—ekspresi kesulitannya yang sebelumnya telah berubah menjadi senyum lembut.

“Maukah kamu berbicara lagi denganku esok?”

Melihat ekspresi dan mendengar perkataannya membuatku panik.

Pernahkan aku membuat ‘rencana untuk hari esok’ dengan seseorang sebelumnya?

Paling tidak dari kenangan yang dapat kuingat, aku tidak pernah mencobanya, sekali pun tidak pernah.

Ah tunggu, kenapa aku mengatakan hal seperti ‘Paling tidak dari kenangan yang dapat kuingat’? Aku masih anak-anak, aku tidak hidup cukup lama sampai bisa jadi pikun.

Aku berkata, “Oke, kita bertemu lagi disini esok.”

Aku berbalik dan meninggalkan taman.

Kenapa aku dengan sengaja memberikannya jawaban yang dingin? Bahkan diriku sendiri pun tidak bisa mengerti.

Pergelangan kakiku sakit setiap kali aku melangkah pada jalanan beton ini,  tapi kesakitan yang disebabkan dengan kejadian panjang hari ini bisa dipikir sebagai hal yang lucu bagi orang lain.

Ahh, kuharap aku tidak akan merasakan kesakitan yang lebih dari ini esok. Aku perlahan terus berjalan maju bersamaan aku mencoba menyembunyikan apa yang kurasakan sebenarnya.
***
Sebelum aku menyadarinya, langit telah dicat dengan warna matahari terbenam yang bersinar.

Aku cukup cekatan bukan? Bisa terus-menerus merubah tangan yang memegang tas agar mencegah jarum dan penitinya menyucukku bersamaan melindungi kakiku yang terluka sambil berjalan.

“Syukurlah aku tidak terlihat terlalu buruk.”

Setelah aku membeli gelas yang pas di toko dekat stasiun, sekarang aku pulang ke rumah dengan menyeret kakiku yang kesakitan.

Biarpun kakiku yang kesakitan ini menyebabkan sedikit gangguan, kalau aku bisa beristirahat sebentar di rumah kurasa aku akan baik-baik saja.

Disamping itu, karena kakiku yang sekarang kesakitan, aku telah melupakan seluruh rasa sakit pada pipi kananku.

Gara-gara ini, kasir toko itu bertanya “Ada apa dengan wajahmu?” dan aku menjawab, “Apakah aku sejelek itu?”

Beneran deh, ini semua salah gadis itu. Seandainya esok kami bertemu, aku akan mencari cara untuk balas dendam.

Aku terus berjalan bersamaan aku memikirkan hal ini dengan pahit.

Berjalan melalui jalan yang sudah sering kulihat, memutar pada simpangan yang familiar, melewati tikungan yang biasanya, kumelihat apartemen dimana aku hidup tepat di depan mataku.

Seperti biasanya. Aku berjalan melewati pintu utama, mendaki tangga besi, dan menuju kamar terujung di belakang lantai 2.

Mungkin karena tempat ini kurang bersih, sejak tetangga kami  pindah bulan lalu, semua kamar di lantai dua telah kosong.

Biarpun Ibu mengatakan, “Baguslah kalau begitu—sekarang kita tidak perlu mengkhawatirkan tetangga.” Untukku yang menghabiskan malamnya sendirian, hal ini jujur membuatku takut.

Sebenarnya, aku tidak terlalu suka hal-hal mistis.

Tapi Ibu malah sangat menyukai hal seperti itu, selalu menonton acara seperti ‘Spesial: Hantu di Musim Panas’, mendengar namanya saja sudah membuatku merinding—hanya hal inilah yang kuharap Ibu hentikan.

Apalagi episod saat di Rumah Sakit yang ditinggalkan....aaaaah, berhenti memikirkan hal seperti itu. Pikirkan hal yang menggembirakan, yang menggembirakan.....

“Tapi, tidak terlalu banyak hal yang menggembirakan yang bisa kupikirkan.”

Setelah melewati tiga pintu kamar yang kosong, akhirnya aku dapat melihat pintu ke rumahku sendiri,

Biarpun aku tidak tau  tepatnya jam berapa sekarang, kalau dilihat dari mataharinya, aku telah pulang pada waktu yang sama seperti biasanya.

Namun, ada yang janggal dari rutinitasku yang biasanya.

“Aneh, pintunya kok terbuka?”

Aku berjalan di depan pintu rumahku yang sudah jelas terbuka lebar.

Mungkin karena dibangunnya kurang benar, pintu ini tidak akan terkunci kalau tidak ditutup dengan benar, tentu saja Ibu tau tentang hal ini.

“Mungkinkah dia buru-buru?”

Tanpa berpikir panjang, kupegang kenop pintu.

Aku memikirkan hal-hal tidak penting seperti “Besok, aku harus memastikan aku telah menutup pintunya dengan benar” bersamaan aku masuk ke dalam rumahku. Orang bego sepertiku tidak bisa diselamatkan, bahkan dengan obat sekali pun.

Saat akhirnya aku mengangkat kepalaku. Aku melihat dua orang dewasa di dalam ruangan yang tersinari cahaya oren gelap.

Salah satunya adalah ibuku, berpakaian dengan baju kerjanya yang cantik.

Yang satunya lagi adalah orang yang tidak pernah kulihat sebelumnya, seorang pria berbadan besar yang mengenakan topeng dan baju yang kotor.

“Eh....”

Kenapa Ibu masih belum pergi kerja?

Biarpun Ibu selalu menolak tamu sebelumnya, apakah Ibu yang membawa pria ini kesini?

Kalau benar begitu, kenapa Ibu menangis dan terbaring di lantai bersamaan mulutnya di tutup dengan kain lap dan tangannya diikat?

Dan kenapa pria ini memegang perhiasan-perhiasan berharga milik Ibu di tangan kotornya?

Jawabannya sangatlah mudah.

Namun, saat akhirnya aku menyadari ini semuanya sudah terlambat.

Tangan kanan pria itu diam-diam menangkap bajuku dan melemparku ke tengah ruangan.

“Ah!”

Tidak bisa mendarat dengan benar, punggungku terbanting ke lantai.

Pandanganku agak kabur dan aku merasakan kerlap-kerlip cahaya blitz di mataku.

Aku tidak bisa bernapas.

Ini pertama kalinya seumur hidupku aku pernah merasakan kesakitan seperti ini.

Pikiranku kacau balau—aku hanya bisa menggunakan tangan kananku untuk mencoba berdiri, tapi bahkan itupun gagal.

Ibu yang terbaring di lantai sepertinya merintih.

Ada apa? Karena apa Ibu menangis?

Sebenarnya karena apa.....

Mataku yang kabur memandang seisi ruangan dan melihat perhiasan yang berada di tangan pria yang hampir keluar.

Ya, pasti karena itu.

Perhiasan itu adalah hasil jerih payah banting tulang Ibu setiap harinya.

Dan pria ini ingin mengambilnya.

Kau benar, Ibu. Jika hal seperti ini terjadi, wajar saja kalau kau ingin teriak.

Tepat pada waktu ini, tangan kananku akhirnya dapat berfungsi kembali,

Aku menekan tangan kananku ke lantai dan membangunkan badanku.

Setelah berdiri, aku menerkam pria yang membawa perhiasan Ibu.

“Ke-kembalikan....itu....bukan milikmu.”

Aku telah sangat kelelahan sampai-sampai aku tidak bisa berpikir dengan bijak.

Pria itu meludahiku dengan marah dan menarik tanganku dengan paksa untuk kembali melemparku.

“Ugh....!”

Aku sama sekali tidak bisa berhenti dan kemudian kembali jatuh ke lantai.

Tidak bisa bernapas, penglihatanku tidak jelas, aku tidak bisa lagi berdiri

Aku tidak bisa berhenti gemetaran dan setelah beberapa lama aku mendengar suara besi bergesek.

Biarpun aku tidak bisa melihat apa itu, dari teriakan Ibuku dapat kutebak apa itu.

Padahal Ibu jarang sekali memasak, tetapi tiba-tiba dia membeli seperangkat pisau dapur berkelas. Tentu saja pisau itu tidak pernah digunakan dan telah disusun rapi di dapur. Suara tadi mungkin salah satu dari pisau-pisau yang banyak itu.

Pada dasarnya, pria itu berencana untuk membunuhku sebelum aku kembali menyerangnya.

Cukup satu tusukan saja bisa menenggelamkanku pada kegelapan abadi. Mudah sekali.

Wajahku terbaring pada lantai rumah, aku dapat dengan jelas mendengar langkah kaki yang lama kelamaan mendekat ke arahku.

Beberapa menit lagi, sepertinya aku akan mati. Aku tidak menakuti ataupun menolak hal ini.

Biarpun begitu, aku tidak boleh terus terbaring disini.

Aku hanya bisa menghembuskan napas pendek pada waktu itu, tetapi aku mengeluarkan seluruh kekuatanku yang tersisa dan akhirnya aku dapat berdiri.

 Hari ini aku melalui berbagai macam kesakitan, namun tubuhku tidak dapat lagi merasakannya.

Seperti yang telah kuduga, pada tangan kanan pria tak diundang itu sebuah pisau baru yang tidak pernah dipakai.

Pada waktu itu, mengandalkan kedua tanganku untuk menyerang pria ini sama sekali tidak mungkin.

Dan pada waktu yang sama, rencana-rencana yang bisa kupikirkan akan membuat diriku sakit jikalau gagal.

Tetapi itu tidak penting, aku tidak perlu melakukan hal-hal itu. Aku hanya butuh beberapa waktu untuk membuat lelaki ini tidak bisa bergerak.

Aku menatap Ibuku yang menangis, meneriakkan sesuatu yang tidak dapat kumengerti.

Maafkan aku, Ibu. Sepertinya aku tidak bisa mengambil kembali perhiasan-perhiasanmu.

Maafkan aku telah menjadi anak yang bodoh dan tidak berguna.

Biarpun ini berarti hanya ibuku yang bisa kabur, aku akan menghentikan pria ini dengan segenap kekuatanku.

Paling tidak, paling tidak biarpun hanya sekali, aku berharap pada akhirnya Ibu berpikir “Aku sangat bersyukur telah melahirkan anak ini.”

Aku memalingkan wajahku menuju pria itu, menghirup napas dalam-dalam, dan berlari menuju pria yang berada di depan mataku....

......itulah apa yang kurencanakan tadinya.

Hanya dalam beberapa detik, tubuh pria itu terhempas ke dinding.

Pisau dapur yang sekarang tidak lagi baru telah tertanam ke dalam dada Ibuku.

Aku tidak bisa langsung memahami apa yang terjadi di depanku.

Aku hanya bisa menatap jelas Ibuku yang merintih kesakitan, matanya terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku.

Pada waktu pria itu menarik balik pisau dapur itu dari badan Ibuku, darah segar bercucuran dimana-mana, dan otakku kosong.

Biarpun aku tidak dapat lagi mendengar apapun, aku tau aku telah meneriakkan sesuatu dengan nyaring.

Tidak lama waktu berlalu mulai dari aku menerkam pria ini dan dia menusukku di perutku, membuatku jatuh ke lantai.

Aku yang roboh disamping Ibuku merasa seperti tenggelam di air yang dingin sedingin es. Perasaan yang janggal menyelimutiku.

Ibuku yang mengucurkan air mata ingin mengatakan sesuatu kepadaku sebelum dia mati, melalui mulutnya yang dibungkam.

Sampai pada hari ini aku masih tidak tau apa yang ingin Ibu katakan kepadaku.
***

Berjalan pada gang yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Tidak ada satupun hal yang kulihat kuketahui.

Aku masih tidak terbiasa melihat langit malam yang diwarnai dengan kegelapan tiada akhir,  dengan hanya rembulan mengerikan terapung di atasnya

Ini adalah ‘malam’

Anak sepertiku....tidak, ‘anak-anak’ tidak mengenal apa itu ‘malam’

Dunia orang dewasa, dunia dimana sinar mentari yang berlimpah pada siangnya, menyinari seluruh makhluk hidup, hilang tanpa jejak.

Anak-anak tidak boleh melangkahkan kakinya pada dunia ini, hanyalah orang dewasa yang boleh.

Ibu selalu diselimuti oleh dunia yang gelap ini.

......aku membencinya......aku benci ‘malam’

Setiap suara langkah kaki pada jalan beton ini dipantulkan oleh gedung hitam kelam dan memunculkan gemaan langkah kaki yang menyebalkan.

Angin malam yang tidak segar berhembus melalui wajahku, bisikan-bisikan masyarakat umum membuat suasana menjadi tidak mengenakkan.

Cahaya neon yang kelap-kelip di setiap ujung pandanganku membuatku merasa seperti melihat hal-hal yang tidak boleh diketahui oleh anak-anak, aku hanya bisa berbalik karena malu.

Menjijikkan, pikirku. Aku sampai merasa ingin muntah.

Biarpun aku diserang rasa pusing, aku masih terus berjalan menuju suatu tempat yang tidak kuketahui.

“Oh, tidak. Bagaimana bisa anak kecil sepertimu dapat berada di tempat seperti ini?”

Tiba-tiba bisikan tidak jelas terdengar di dekatku.

“Kau masih kecil, bukan? Masih belum mengetahui hal-hal yang berada di malam hari. Pergilah dari sini, pulanglah.”

“......jangan berbicara seperti merendahkanku. Memangnya apa yang kau tau tentangku, huh?”

“Oh, aku tau semuanya. Karena aku ini orang dewasa.”

Aku mulai membenci suara di dekatku yang sepertinya tidak akan pergi untuk sementara waktu.

“Jangan memperlakukanku seperti anak kecil!” kataku, bisikan itu kemudian mulai membuat suara yang aneh. Suara itu sepertinya tertawa, namun tawanya juga terdengar seperti desisan.

“Bagiku kau masih belum cukup umur sama sekali. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Dengarkan dengan baik, oke? Kau hanya tidak mengerti hal yang paling penting untuk menjadi orang dewasa.”

Desisannya menjadi lebih nyaring daripada sebelumnya, bisikan itu bagaikan telah tertempel di telingaku.

“Hal yang paling penting?”

Sesudah aku menanyakan hal ini, suara langkah kakiku ‘tap tap tap’ menghilang. Padahal aku tidak menghentikan gerakanku sama sekali

Aku terkejut dan melihat disekitarku. Melihat lampu neon yang kelap-kelip, dinding gedung yang gelap gulita, juga rembulan yang mengapung di langit, biarpun aku terus melihat di sekitarku aku tetap tidak menemukan seorang pun disini.

“Apa yang terjadi?!” teriakku, namun aku tidak mendengar suaraku.

Gelap. Tidak ada tanda-tanda cahaya sedikitpun pada kegelapan ini. Bahkan sosokku yang ketakutan sepertinya telah sepenuhnya menyatu dengan kegelapan.

“Tidak bisakah kau melihatnya? Tersembunyi disini, ‘kebohongan’.” Suara rendah itu bagaikan muncul dari tubuhku sendiri.

“Orang dewasa mengubur kebohongannya’ dalam kegelapan. Ah, mereka melakukannya untuk melindungi hati mereka.”

Aku tidak dapat mengerti apa maksud kalimat itu.  Ini sangat tidak nyaman, terlalu menyakitkan. Lepaskan aku.

“Apakah kau mengerti apa maksudku, bocah? Ini adalah dunia malam, apa yang kau tidak ketahui dari dunia orang dewasa.”

.....ah, sebenarnya orang dewasa itu apa?

Kenapa Ibu harus hidup di dunia yang seperti ini.....?

“Kau ingin tau mengapa? Jika kau ingin tau, kau harus melupakan dan menenggelamkan hati tidak berdosamu itu.”

Melupakan hatiku?

“Benar, di dunia malam dimana kegelapan tidak memiliki batas dan kesunyian tiada akhir, kau tidak memerlukan suatu hal seperti hati. Kau hanya memerlukan ‘kebohongan’.”

Akhirnya, kesadaranku mulai memudar.

Aku merasa semua perasaanku menyatu dengan kegelapan.

Kesadaranku yang terpotong dan mulai menghilang hanya dapat mendengar kalimat terakhir yang akan terukir di hatiku selamanya.

“Tipulah semuanya, bocah.”

20 komentar:

  1. Masa lalau Kano >.< Lanjutkan!!!!! Seru...

    BalasHapus
  2. Makasih kerja kerasnya kaori nee-chan...
    aku jadi bisa baca kelanjutannya

    BalasHapus
  3. Di tunggu kelanjutan nya ya min

    BalasHapus
  4. Lanjut... Kaori..

    BalasHapus
  5. Ini semua menjawab rasa penasaran saya tentang hubungan spesial kano dan ayano XD sankyuuu

    BalasHapus
  6. Ini semua menjawab rasa penasaran saya tentang hubungan spesial kano dan ayano XD sankyuuu

    BalasHapus
  7. tambah penasaran

    BalasHapus
  8. Semangat kk,di tunggu lanjtannya

    BalasHapus
  9. Almost crying when read this... :'( Lanjut ya!~

    BalasHapus
  10. Yang ada di gambar ilustrasi itu ayano kah?
    makin penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya~ itu Ayano kecil~ sekitar 6 tahunan rasanya

      Hapus
  11. Hmm, apakah itu berarti, ibunya kano bekerja sebagai ... uhh, wanita penghibur? Aku nangkepnya gitu ._.

    Thanks buat translateannya, Kaori-san. Ditunggu chap selanjutnya. Ganbatte :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa~~ ibunya Kano....hmmm wanita penghibur~

      Hapus
  12. Duh, sekarang jadi ngerti masa lalunya Kano :') Semangat ya Kaori-san mentranslate-nya~~

    BalasHapus
  13. Kaori-saaaaan!!! #udahlamagamuncul
    Semangat yaa ngetranslatenyaaa
    Suka banget ama kanoooo

    BalasHapus
  14. Kaori-saaaaan!!! #udahlamagamuncul
    Semangat yaa ngetranslatenyaaa
    Suka banget ama kanoooo

    BalasHapus
  15. kenapa kok gak dilanjut ya? ga sabar nih
    ditunggu ya Kaori-san

    BalasHapus
  16. Ugyaaa~
    masa lalunya Kano, ya??
    Kereeennn :3
    lanjut lanjut!! :3 /
    and semangat terus buat ngetranslate yo ^o^9

    BalasHapus
  17. Ugyaaa~
    masa lalunya Kano, ya??
    Kereeennn :3
    lanjut lanjut!! :3 /
    and semangat terus buat ngetranslate yo ^o^9

    BalasHapus